Bangun di Kala Pagi [Sebuah Tutorial Melawan Patah Hati]

23
243
Suasana pagi yang entah via pixabay.com dalam tulisan bangun di kala pagi
Suasana pagi yang entah via pixabay.com

“Sebenarnya patokan waktu pagi itu ketika jam berapa sih menurut kalian?” Aku memulai kelas dengan satu pertanyaan sederhana. Seluruh mahasiswa/i tampak berpikir barang sejenak.

Salah seorang berkata “Saat matahari belum menampakkan cahayanya Bu”

Seorang yang lain berkata “Ya selagi masih belum jam makan siang bukankah masih disebut pagi Bu?”

Seseorang dengan kacamata minus tebal berwarna kecoklatan berkata “Sebenarnya setiap pagi seseorang berbeda Bu”

“Ya benar, setiap pagi bagi setiap orang tentu bebeda. Baiklah kalau begitu, sekarang kalian tuliskan masing-masing bagaimana pagi kalian di kertas satu lembar. Tak perlu banyak kata cukup satu paragraf saja. Tapi jika kalian sudi bercerita tentang pagi kalian, tentu Ibu akan membacanya hingga tuntas.

Beberapa mahasiswa/i tampak menuliskan secara langsung tentang pagi mereka. Beberapa yang lain masih tampak dalam lamunan tentang pagi. Mungkin ia tak mengerti apa yang aku tugaskan. Aku suka memulai kelas dengan hal sederhana: seperti bercerita misalnya. Mendengar akan membuatku menerima banyak ide dan inspirasi. Tak jarang, berakhir sebagai tulisan yang akan terbit di koran minggu ini.

Aku lebih suka memulai kelas dengan memberikan tugas lalu disuksi. Tak perlu lah banyak teori, toh semasa bangku menengah dulu mereka sudah dicekoki banyak teori. Memang, mahasiswa/i di sini datang dari latar belakang sekolah menengah yang berbeda. Dari penjurusan IPA, IPS, bahkan farmasi. Tak ada kata sambung- menyambung, toh siapapun berhak menjadi sastrawan bukan. Beberapa mengaku salah pilih jurusan, beberapa mengaku karena tidak lolos pada jurusan unggulan. Tapi banyak pula yang sudah khatam berbagai bacaan sastra yang bahkan belum sempat aku tamatkan. Musashi dan Taiko, wah aku sempat heran mahasiswa baru sudah menamatkan bacaan ini. Musashi novel bergenre fiksi sejarah ini terbit di Jepang pada tahun 1935 dan baru diterjemahkan ke dalam bahasa inggris pada tahun 1981 memang membuat banyak pergerakan bagi dunia sastra Jepang.

Entah menjadi seperti apa lulusan sastra ini kelak, baik itu pemain teater, kritikus film, jurnalis, atau bahkan politikus, tak ada yang menyimpang, toh semua sudah di jalan yang digariskan Tuhan bukan? sama halnya denganku, sejak dulu hingga menjadi dosen di sebuah universitas ternama ini, memang menjdi targetku sebelum lulus di jurusan sastra strata satu ketika itu. Hingga kini, aku pun masih belajar: belajar memberi tutorial bangun pagi-pagi misalnya. Kepada mahasiswaku yang tak kenal apa itu bangun pagi, agar ia terlepas dari rasanya patah hati. Jika bapak senja adalah Seno Gumira Ajidrma, maka apa salahnya jika ibu pagi adalah aku, gadis Jawa yang meskipun belum menikah pada usia kepala tiga, tetap saja aku sudah khatam oleh rasa patah hati, serta cara mengobatinya.

Setelah aku membaca beberapa karya mahasiswa/i ku soal pagi, aku pun terheran-heran. Pagi memang memiliki arti yang berbeda bagi setiap orang.

Aku tak ingin menulis seperti Fiersa Bersari yang mengatakan ‘ternyata bangun lebih pagi adalah pembunuh gerutu, karena kita punya waktu untuk secangkir kopi, setumpuk lamunan, dan secarik rindu.’ Ah, tak perlulah serumit itu setiap pagiku bu, merindukan seseorang nyatanya membuat dadaku sesak seperti seorang penderita asma yang kambuh. Aku bangun pagi ketika semua orang belum sempat tidur. Ketika bulan masih menukik di langit-langit. Aku tak bisa jelaskan secara rinci soal pagiku Bu, tapi satu yang pasti, aku benci setiap pagi. – NARA JELITA

Pagi orang-orang di kampungku tak pernah tampak Bu, kabut asap mengepul memudarkan cahaya mentari. Aku dengan tenang menerima pendidikan di sini, sementara adikku dan anak-anak lain di kampung libur sekolah saban hari. jendela rumah tak pernah lagi dibuka. Jika keluar pintu seperti berada entah di mana. Aku tak habis pikir dengan pagi di kota kelahiranku saat ini. Miris Bu, aku ingin pulang. setidaknya aku akan menciptakan pagi yang lain untuk adik-adikku. -DINO SAPUTRA

Pagi tak pernah tampak lagi dalam penglihatanku Bu. Aku selalu bangun ketika matahari telah menukik dengan terik. Udara semacam hembusan debu. Sebab yang kutemui hanya polusi saat ini. Orang-orang keluar dengan persiapan skincare mahal sebelum menyapa polusi: baik wanita pun pria, sama halnya denganku. -DIERRA

Tiga carik kertas saja yang aku baca, tapi rasanya ada sesuatu yang janggal tentang pagi. Orang-orang berpikir bahwa pagi ya hanya pagi: sesuatu yang seharusnya menjadi motivasi pun langkah awal memulai hari. Terlalu banyak hal indah yang ditawarkan pagi. Hingga siapa saja yang merasa tak mendapatkan keindahan itu di kala pagi, akan kecewa dan patah hati.

Pagi menjanjikan sejuknya embun, dedaunan yang bergoyang perlahan, angin yang segar, matahari yang memberikan vitamin, serta banyak hal lain yang dibutuhkan banyak orang di dunia ini. Namun apa jadinya jika setiap pagi tak lagi memberikan keindahan itu bagi setiap kita yang berharap? Terluka.

****

Panggil aku Rei saja. Resyakila Sada Widhiani, sebuah nama lengkap keturunan Jawa yang memiliki arti kurang lebih begini: seorang gadis atau anak yang memiliki semangat patriotik nan suci serta taat dengan aturan.

Barangkali Bapak dan Ibuku ingin aku menjadi seorang pahlawan nan jujur, berilmu pengetahuan tinggi serta taat pada aturan yang ada. Alhasil beginilah aku. Menjadi seorang dosen yang tak dapat dipungkiri jiwa patriotik itu muncul. Serta menjadi gadis dengan usia hampir 35 tahun yang masih menunggu. Lebih tepatnya aku bukan menunggu. Namun belum menemukan pagiku. Entah pada belahan dunia mana, kuyakin sedang disiapkan pagi terindah untukku.

Aku nemang sempat patah semangat sebab sudah gagal menikah 4 kali. Kegagalan pertamaku disebabkan weton yang tak cocok padahal kami merasa sangat cocok satu sama lain, entahlah, masyarakat Jawa pada umumnya memang mengandalkan ini untuk menghindari hal yang tidak diinginkan kedepannya. Kami pun pasrah, tak jadi menikah.

Kegagalan kedua karena calon suamiku minder terhadap statusku sebagai dosen muda dengan latar bekakang pendidikan tinggi. Padahal sejak awal kenalan, ia sudah tahu latar belakangku. Kuyakin itu hanya akal-akalannya saja mencari sebuah alasan. Tak lama kemudian kudengar ia telah menikah. Bahkan kini kabarnya telah memiliki dua anak yang cantik jelita.

Kegagalan ketiga hanya karena aku tak pandai memasak bahkan mencuci baju. Perkenalan pada awalnya sangat asik hingga momen serius datang dan ia bermaksud melamarku, ia bertanya apakah bisa menjadi istri nan utuh? Bagi sebagian pria memang menjadi istri layaknya asisten: bisa memasak, mencuci, berbenah rumah, merawat diri serta banyak lagi. Tapi bagiku, bukan itu esensi seorang istri. Kami berbeda pendapat, lalu memutuskan mengakhiri hubungan kemudian.

Kegagalan keempat tak ingin kujelaskan dengan detil. Faktanya calon suamiku, menemukan yang lebih baik saat hari pernikahan hanya hitungan minggu. Dengan mudah ia batalkan dengan alasan orang tua tak setuju. Lagi-lagi aku tahu itu hanya akal-akalan belaka.

Terlepas dari patah hati nan hebat, aku telah terlatih sejak usiaku 23. Saat itu adalah tahun kegagalan pertamaku. Tak sedikit yang bertanya, “Kok selalu gagal?” “Tak belajar dari pengalaman ya” “Kok kamu kuat sih?” serta rentetan pertanyaan pun pernyataan lainnya.

Hingga satu hal yang kupetik secara pasti, aku masih menunggu pagi layaknya orang-orang lain yang berharap pada Pagi. Kubayangkan raut wajahnya cerah, dengan gaya bahasa tutur kata nan lembut, serta senyumnya yang rupawan, ah tak bisa kubayangkan hari bahagia itu tiba pada akhirnya.

****

Pukul empat pagi, selalu saban hari kuhabiskan hariku untuk meluangkan waktu menulis selepas bangun dari tidur barang sebentar dua puluh menit misalnya. Sisanya kuhabiskan dengan melamun, menanti Pagiku benar-benar tiba tepat di halaman rumah. Tak pernah kubayangkan ia membawa bunga. Tak pernah kubayangkan ia mengendarai mobil mewah. Hanya saja, dengan senyum terbaiknya.

Kali ini aku menuliskan pagi. Ia berjalan dengan hembusan angin perlahan, lalu ia sedikit menyentuh dedaunan yang disirami embun. Sesekali berhenti sebelum mengetuk pintu rumahku, seraya merapikan rambutnya yang agak ikal. Aku belum selesai menggambar pagi, tapi seseorang yang seringkali merenggut tulisan pagiku tiba-tiba memasuki kamar.

“Mbak, ayo kita mandi dulu”

– RSJ. Dr. Soeharto Heerdjan: Kamar pasien No 27 B.

 

23 COMMENTS

  1. Kak Dini, tolong kalo bikin cerita jangan bikin nagih baca, suer, nih cerita nagih, kalo pagiku : saat baru bangun tidur, saat baru digas pelajaran lintas jurusan, saat itulah pagi

  2. Pikiranku bingung, tapi biasanya kalau caraku melawan patah hati dengan mudik ke kampung halaman kakek, karena disana ku bisa tenang, bebas semua pikiran dan bahagia luar biasa, patah hati pun lupa & hilang seketika.

    Memang sih, setiap patah hati itu berbeda-beda dan cara melawan patah hati setiap orang pun beda. Ditunggu short movie nya nih!

  3. Setiap orang memiliki pagi-nya sendiri.
    Cerpen yang banyak sekali ingin menyampaikan sesuatu tapi masih bisa ditahan oleh penulisnya.

    Mungkin pagiku tak sama dengan pagi yang lainnya Tapi tetap saja, pagi selalu dirindukan oleh siapapun.

    Ditunggu kisah selanjutnya, mungkinkah patah hati bisa terobati di kala pagi atau sebaliknya.

  4. Sebuah cerita yang reflektif dan memberikan kesan yang mendalam. Alurnya sangat apik dan penulis mampu memberikan klimaks yang pas buat pembaca. Andai ada part selanjutnya.

  5. Ada waktu yang disajikan tanpa harap disetiap harinya. Meski ia selalu ingin menyembunyikan dengan sempurna.

    Aku sedih kak membayangkan pemeran utama dalam cerita ini. Cemas dan berharap semua baik-baik saja bercampur jadi satu. Aku berasa sedang berkaca pada alur ceritanya.

  6. Udah lama nggak baca cerpen atau konten sastra begini, setiap kata gak bisa kelewat biar dapet maknanya.

    Paham sih dengan alur ceritanya, si ibu dosen yg punya latar belakang berbeda dengan kebanyakan perempuan lainnya yang katakan saja; they are easy to get what they want: marriage. Tapi toh itu pilihan, saat seperti si laki2 pergi ninggalin dia sampai 4 kali dengan beragam dalih, ya bisa apa, mereka memilih pergi dan tinggal lanjutkan hidup yang ada saat ini, toh gagal bertemu dengan orang yg “dikira” jodoh bukan akhir dari perjalanan hidup, kan? So, cheers up buat tokoh utama di cerpen ini ya.

    Mbak dini, mau nanya dong, itu bagian akhirnya,

    RSJ. Dr. Soeharto Heerdjan: Kamar pasien No 27 B.

    Jadi tokoh utamanya ini kena skizo ya sampe dirawat di RSJ dan dalam masa pemulihan kah? Apa ini kilas balik kehidupan dia sebelum ada di tempat ini? Tell me plizz, agak gantung dan misterius di ujung cerita.y duh. 😅

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here