Koi’ ai

0
82
Japan via pixabay.com
Japan via pixabay.com

[1]Oomisoka kali ini tak ada bedanya dengan oomisoka sebelum-sebelumnya. Seperti biasa orang-orang akan membersihkan rumah dan makan [2]osechi ryouri. Akina sibuk menata dengan rapi makanan tahun baru yang disusun di dalam kotak kayu [3]juubako. Konon, kotak kayu untuk masakan osechi di percaya sebagai lambang keberuntungan yang berlipat-lipat.

Pada umumnya hanya lauk yang ditata di dalam kotak kayu bersusun yang bisa disebut masakan osechi. Akina menyiapkan [4]O-toso untuk kesehatan yang diminum di pagi hari pada awal tahun, [5]iwaizakana tiga macam makanan untuk teman minum sake, [6]zouni sup yang berisi [7]mochi dan [8]nishime.

Akina menyiapkan semuanya sendiri, karena ia memang hanya tinggal sendirian di wilayah Kanto ini. Ibunya telah lama meninggal akibat sakit kanker payudara tiga tahun yang lalu. Semenjak itu, hidup Akina berubah dan ia lupa bagaimana caranya tersenyum.

Walaupun saat Ibunya hidup, mereka hanya tinggal berdua, namun Akina menjadi gadis yang periang, dan selalu bahagia. Ibunya seseorang yang tak pernah mengingat-ingat kesalahan masalalu, maka dari itu Ibunya selalu bahagia menyambut hari esok. Itu yang tak bisa Akina lakukan hingga kini, sebab hatinya masih tertinggal pada masalalu Ibunya yang melupakan garisan nasib Akina kedepan. Akina tidak mempunyai Ayah, Ibunya tak pernah mengatakan dimana Ayahnya berada dan bagaimana bentuk rupanya, Akina tidak pernah tahu.

 

Origami:

Seharusnya cinta pertama anak perempuan itu adalah kepada ayahnya. Namun kemana aku harus mencari cinta pertama itu?

Akina mampu melanjutkan hidup dan tak pernah berputus asa, meskipun ia sudah lupa bagaimana cara untuk tersenyum, tapi ia selalu ingat ucapan Ibunya.

“Hidup itu berharga, jika kau ditimpa sebuah masalah yang begitu sulit, jangan pernah berpikiran untuk bunuh diri seperti kebanyakan remaja Jepang lakukan.”

Sedari kecil Akina dibiasakan dengan hidup mandiri oleh Ibunya. Ia sama sekali bukan tipe anak yang manja. Ia telah diajarkan bagaimana bekerja dengan keras. Maka dari itu, kini walaupun ia mampu melanjutkan sekolah dengan hasil didikkan sang Ibu, ada satu hal yang baru ia kenal saat Ibunya meninggal.

“Tulislah apapun di kertas origami ini, jika Ibu tak ada suatu hari nanti, Ibu akan membacanya, jangan pernah ragu menuliskan apapun yang ada dipikiranmu.”

Sejak saat itu, Akina tahu bagaimana caranya merangkai kata yang indah agar Ibunya senang membaca origami miliknya.

Akina telah berusaha keras demi kelanjutan hidupnya. Ia bekerja paruh waktu dan saat ini sedang menamatkan kuliah di salah satu universitas di Kanto. Akina adalah seorang mahasiswi [9]bungaku semester ketiga.

Sambil menyiapkan makanan Akina menyetel televisi dan melihat prakiraan cuaca di salah satu stasiun televisi Jepang. Saat ini prakiraan cuaca cerah kemudian berawan. Akina memasaknya dengan porsi yang berlebih untuk beberapa hari kedepan. Karena di Jepang Sebagian besar makanan osechi dimasak sangat manis, asin, atau diacar dengan cuka. Makanan juga harus dimasak hingga betul-betul kering agar tahan lama.

Pada hari-hari awal tahun, walaupun dengan keterbatasan Akina tetap mengajak teman satu jurusan untuk sekedar makan osechi yang ia buat. Ia akan membawa osechinya ke kampus sebagai [10]bento.

Walaupun akina tak pandai bergaul dan terkesan kaku dan dingin, ia tetap mempunyai seorang teman dekat. [11]Koi. Begitu Akina sering menyebutnya di dalam hati. Akina tak pernah memanggilnya koi secara langsung.

Diam-diam Akina tertarik dengan Nardo. Semenjak Nardo pertama kali datang ke Jepang, saat pertukaran pelajar dari Indonesia. Nardo dengan latar belakang orang indonesia yang terkesan ramah ke semua orang, terlebih kepada Akina. Akina adalah orang yang pertama kali dikenal Nardo saat di Jepang. Pertemuan pertama mereka saat kuliah hari pertama Nardo dan mereka di satu ruangan kalas saat itu, kelas bahasa Jepang.

Selama kuliah berlangsung, Akina hanya sibuk menulis di kertas origami warna-warni miliknya. Nardo dengan segera mengalihkan perhatian kepada Akina. Ia hanya memerhatikan tingkah laku Akina yang sedang menulis di kertas origami itu.

Semenjak saat itu, Nardo selalu mengikuti kemana Akina pergi. Ia sangat penasaran dengan origami-origami yang Akina tulis.

“Boleh aku menjadi temanmu?”

Satu tahun yang lalu, percakapan pertama mereka, dan Akina tak mampu menjawab apa-apa.

“Namaku Nardo, aku dari Indonesia. Apakah kamu tahu Indonesia?”

[12]Un.” Akina menganggukan kepala sambil segera beranjak pergi.

Semenjak Ibunya meninggal, walaupun Akina selalu bersemangat, ia tak pernah berinteraksi dengan orang lain lagi. Ia melakukan semua hal dengan dingin dan kaku. Kecuali satu hal: menulis origami, sebab hanya di origami itu, ia akan bercerita banyak tanpa bersikap dingin dan kaku.

Walaupun terdiri dari berbagai [13]senmon, Akina dan Nardo di pertemukan di senmon yang sama yaitu bungaku. Bidang sastra. Hal itu membuat mereka banyak berbicara soal sastra, soal buku-buku terbaru yang wajib dibeli. Bahkan mereka sering berbincang tentang hal remeh temeh seperti kasih dan sayang.

“Apa arti kekasih menurutmu, Akina?” Nardo memulai percakapan saat makan siang. Akina tak menjawab apapun. Ia hanya menata lagi dengan rapi makanannya yang akan segera ia habiskan. Satu hal yang selalu diingat oleh Akina adalah [14]tougarashi yang telah dilumatkan dan dimasak untuk pelengkap makanan Nardo. Orang Indonesia kebanyakkan memang lebih suka memakan cabe merah dari pada bumbu lainnya. Semenjak kenal dengan Nardo, diam-diam Akina mencoba menyukai cabe merah.

Akina seorang gadis yang lugu dan tidak modis. Gaya rambuatnya sejak SMP hingga kini masih sama, [15]mitsuami. Nardo tetap senang bersama-sama dengan Akina. Ia tak pernah malu jika harus jalan berdua dengan Akina. Walaupun tak jarang ia selalu ditertawakan jika berjalan berdua di lingkungan kampus.

Banyak perempuan-perempuan Jepang yang terlihat sangat suka kepada Nardo. Orang Jepang kebanyakkan ternyata lebih suka dengan pendatang luar yang wajahnya seperti Nardo, alis mata yang tidak begitu tebal, mata yang lebih besar, dan warna kulit yang khas, kuning langsat.

 

***

 

Cuaca di wilayah Kanto kerap kali berubah-ubah. Ketika pagi hari saat Akina berangkat ke kampus, matahari begitu terik, dan langit begitu cerah. Namun saat jam pulang kuliah, tiba-tiba saja hujan turun. Seperti biasa, Akina selalu pulang bersama Nardo. Asrama Nardo tak jauh dari kampus, dan tak jauh pula dari rumah Akina.

“Wah tiba-tiba hujan begini ya, kita terpaksa menunggu sampai hujannya reda.” Nardo lagi-lagi memulai percakapan sambil memandang ke arah langit.

“Memangnya kamu tidak membawa payung?” Akina membalas.

“Tidak, aku selalu lupa membawa payung.”

Akina dan Nardo berdiri di tempat parkiran sepeda. Nardo yang asyik menampung air hujan yang deras dengan kedua tangannya sambil tersenyum kecil membuat Akina menggeleng-gelengkan kepala. Tapi tiba-tiba Akina tersenyum. Ia tersenyum untuk pertama kali semenjak ia lupa bagaimana caranya untuk tersenyum.

“Eh, kamu tersenyum, aku lucu ya? hehe”

Wajah Akina langsung berubah kemerahan, menahan malu.

“Sepertinya kamu kedinginan. Ini pakai saja jaketku.” Nardo melepaskan jeketnya dan menutupi tubuh Akina sembari melempar senyum. Senyum yang indah.

 

Origami:

bersamamu ribuan rintik hujan berselang,

karena hujan kita terperangkap hingga malam,

takut itu menjadi menyenangkan, tak perlu melihat jam tangan, tak terasa siang kini bertemu malam,

aku selalu senang saat rasa khawatirmu menjagaku,

hujan selalu enggan memisahkan kita,

hingga malam, kita tetap berdua, terjaga, saat cahaya matahari berganti dengan terangnya lampu malam, selama itu pula petir yang menakutkan tapi terasa begitu menyenangkan.

 

***

 

Tujuh hari lagi waktu yang tersisa untuk Akina dan Nardo bersama. Satu tahun sudah Nardo menghabiskan waktu di Jepang bersama Akina. Selama itu pula mereka tak saling terbuka soal perasaan. Akina hanya terbuka kepada origami tempat curahan hatinya. Walaupun Nardo sering ingin memulai percakapan tentang hal remeh temeh seperti kasih dan sayang, Akina selalu mengalihkan pembicaraan dan tak ingin membahas hal itu lebih lanjut.

Nardo mengalami kekecewaan yang sangat berat. Seminggu lagi waktu yang tersisa namun Akina tak kunjung mengalami perubahan. Terkadang Akina tetap dingin dan kaku. Walaupun begitu, Nardo tetap merasa bahagia sebab ia bisa melihat senyum akina yang manis barang sekali.

Nardo memilih menjauh dari Akina. Ia tak lagi menunggu Akina di parkiran sepeda ketika pulang kuliah. Ia tak lagi bertanya-tanya dengan nada yang sungguh penasaran saat Akina membuat origami di dalam kelas. Ia juga tak lagi mencari-cari dimana Akina berada.

 

Origami:

Aku ingin kembali seperti dulu, ketika kamu tak tahu banyak hal tentang aku

Aku ingin kembali seperti dulu, ketika kamu sempat melukis senyum di wajahku

Aku ingin kembali seperti dulu, ketika tak ada alasan untukku untuk mengeluh

Aku ingin kembali seperti dulu, ketika kamu selalu mencari-cari tahu dimana aku

Dari: sehelai rumput kering yang sewaktu-waktu akan mati dan hilang

Untuk: Koi’ ai

           

Tak sengaja Nardo membaca kertas origami yang tertinggal di meja Akina saat pelajaran usai. Akina segera pergi tanpa membawa kertas origaminya itu. Alis mata Nardo bertemu, ia sedikit heran. Barangkali Akina sengaja meninggalkan kertas origaminya ini.

 

Origami:

Suatu hari yang kubenci: ketika kita tak lagi saling tegur sapa, tak saling kenal satu sama lain.

Suatu hari yang kubenci: ketika hal yang ku pilih adalah berubah, tak lagi peduli, tak lagi ada rasa bersalah.

Dan, kau tahu? Suatu hari yang paling kubenci: ketika kita memilih untuk saling melupakan akibat kenangan dari sebuah pertemuan.

 

Nardo makin terkejut ketika membaca origami lembar kedua. Origami berwarna merah pekat yang tak pernah ia lihat Akina menulis di kertas origami ini selama di kelas. Dan ternyata masih ada origami lembar ketiga. Origami berwarna biru pekat. Warna ini juga tak pernah dilihat Nardo saat Akina menulisnya di dalam kelas.

Akina memang menulis origami dengan warna-warna pekat itu, saat hari pertama Nardo menjauh. Ia menulis itu, ketika malam hari yang sunyi. Saat suara lonceng sepeda di tepi jalan di depan rumahnya tak lagi terdengar.

 

Origami:

Seandainya saja aku bisa melihat dunia diluar sana dengan kaca mata masa depan.

Sungguh beberapa hari saja berinteraksi denganmu begitu menakjubkan.

Aku selalu ingin mendengar ucapan-ucapan semangat darimu setiap harinya.

Saat kamu bilang, cepat tidur dan bangun lebih awal

Kata-kata itu yang menyertaiku seperti tanda seru,

Saat kamu ucapkan itu aku mencoba membunuh diriku sendiri

***

Ketika koi’ ai Akina telah pulang ke negeri asalnya. Akina tak mempunyai kekuatan apapun untuk selalu menghubungi Nardo. Akina selalu mencoba menyambungkan telepon dengan Nardo, tapi tak pernah berhasil. Sudah satu bulan semenjak pulangnya Nardo ke Indonesia, Akina lagi-lagi lupa bagaimana caranya untuk tersenyum.

Origami:

Aku berulang-ulang kali mengalami kesulitan untuk berdamai dengan operator yang sering menyangkutkan signal di langit-langit, lalu yang bisa kudengar hanya suara peremuan, sang operator yang berceloteh ria, jika pengguna tak kunjung menjawab teleponnya.

Ternyata ada lubang di hati Akina yang cukup dalam akibat menahan rindu yang tak tersampaikan. Tak juga ingin berterus terang saat Nardo dahulu selalu bersama-sama dengannya. Kini yang tersimpan hanya ingatan.

Origami

Bukankah sesuatu yang datang itu pasti pergi? Lalu mengapa aku harus bersedih?

Akina teringat akan pertanyaan Nardo yang tak juga sempat ia jawab.

“Apa arti kekasih menurutmu, Akina?”

Origami:

Ketika telah berkelana entah kemana, jauh sekali dan entah dimana rimbanya, namun tetap saja merasa dekat, mengkin dia bisa kamu sebut sebagai kekasih. Meski saling sibuk satu sama lain, tapi diantaranya masih saling merindukan, masih saling menyebut nama di dalam doanya masing-masing mungkin orang itu bisa disebut sebagai kekasih

Ternyata aku lupa satu hal:

Origami:

Ibu pernah bilang, semua yang datang pasti beranjak pergi, semua di dunia hanya sementara.

Namun aku tak bisa terima, aku mencintai terlalu banyak, dan menuntut terlalu banyak dan itu menjadikanku letih.

Saat Akina letih menulis origami-origami yang berserak dikamarnya, ia memilih untuk tidur saja. Saat ini pukul 12 malam waktu Jepang, ponselnya  berbunyi, tetapi Akina tak mendengar suara ponselnya itu.

Padang, 15/04/2015

Tentang Penulis:

Dini Alvionita. Lahir di Kuala Tungkal, Jambi, 3 Agustus 1995. Mahasiswi jurusan Sastra Jepang, Universitas Andalas, Padang. Bergiat di LPK (Labor Penulisan Kreatif). Cerpen: Kala Senja (Padang Ekspress), Papa? dan Bahkan Satu Abad Kemudian (Antalogi Cerpen RKB)

 catatan kaki:

[1] Hari terakhir tahun

[2] Masakan khas tahun baru

[3] Kotak kayu bersusun untuk osechi ryouri

[4] Sake untuk kesehatan

[5] Tiga macam makanan untuk teman minum sake

[6] Sup yang berisi kue yang terbuat dari beras ketan

[7] Kue yang terbuat dari beras ketan

[8] Sayur-sayuran yang dimasak dengan kuah dashi, kecap asin, dan mirin (gula pasir)

[9] sastra

[10] Bekal (yang berisi) makanan untuk istirahat

[11] Asmara, cinta

[12] iya

[13] Bidang keilmuan

[14] Cabe merah

[15] Kepang tiga

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here