Tentang Menikah dan Kehamilan Bagi Seorang Aku

0
118
Foto kehamilan via pixabay.com
Foto kehamilan via pixabay.com

Menjadi seorang istri di usia 23 tahun kala itu, tak pernah terbayangkan olehku. Sejak kecil, beranjak kemudian sejak kenal apa itu menikah dan berkeluarga aku selalu berpikir akan menikah di usia tergolong tak muda. 33 tahun misalnya. Dulu ketika SMA hingga lulus kuliah aku sempat menaikkan target usia menikahku di 30 tahun. Tapi nyatanya, kita hanya bisa berencana bukan?

Awalnya aku berpikir, menikah itu ribet, mesti mengurus suami, anak, rumah, dan hal lain. Waktu me time terbatas. Nggak ada lagi ruang untuk hobi dan lain sebagainya.

Pikiranku pun berubah semenjak aku mengenal singkat sosok laki-laki ini. Ya, yang saat ini kupilih menjadi teman hidup. Entah kenapa, aku pun berani untuk memutuskan menikah di umur 23 tahun. Kata orang, kalau jodoh itu kita tak banyak pikir ini itu untuk yakin dan percaya. Entah kenapa, ketika berhadapan dan jauh di lubuk hati yang paling dalam berkata: iya dia orangnya, iya aku mau menikah.

Begitu sih kabar dari orang-orang yang sudah menikah. Sebut saja, ada orang yang berteman dekat atau anak muda jaman sekarang bilang: pacaran hingga hitungan tahun 5, 6, 7 bahkan ada yang hingga 10 tahun, sudah mapan, sudah mengetahui dua belah pihak keluarga, akrab pula. Tak kunjung berani menikah, tak kunjung memutuskan menikah, tapi ujung-ujungnya tak berakhir di pernikahan. Alias berakhir di kartu undangan, ya termasuk dalam salah satu daftar undangan. Menyedihkan memang. Tapi nggak semua juga sih. Ada juga yang pacaran bertahun-tahun akhirnya berakhir di pernikahan. Tergantung ya, tadi. Keyakinan. Ya seberapa besar sih keyakinan kamu dengan pasangan kamu. Begitulah ia.

Kebiasaan Semasa Lajang

Dulu sebelum menikah, aku seringkali tidur larut, dan selalu menjadi orang yang tukang ngantuk. Di mana-mana aku selalu mengantuk, bahkan di tempat tak nyaman sekalipun. Hal ini wajar, sebab aku seringkali tidur di  jam 3, 4, 5, bahkan hingga tak tidur seharian. Ada saja hal yang aku kerjakan, ya menulis dan membaca misalnya. Alhasil, aku pun susah bangun pagi. Semenjak bekerja full time, yang mengharuskan ke kantor, aku selalu terburu-buru. Pasti ada sesuatu yang tertinggal. Entah itu catatan, dokumen penting, dan para tetekbengek lainnya.

Selain itu, aku suka sekali dengan belanja semasa sendiri dulu. Mataku seakan hijau kalau melihat barang dengan label diskon. Padahal, ya itu hanya teknik marketing saja. Sehingga membuatku yang gila belanja ini menjadi membeli lagi dan lagi. Alhasil akupun minim tabungan, yang ada hanya barang-barang yang sekiranya tidak penting menjadi tumpukan. Mulai dari baju, kosmetik, hingga barang receh dan temeh semacam pena lucu-lucuan menumpuk di kamar kosanku kala itu.

Kebiasaan Semasa Menikah/Menjadi Seorang Istri

Coba tebak, kira-kira apakah aku berubah setelah menjadi seorang istri? Ya, benar sekali. Bukan main, siapapun yang mengenalku pasti tahu jawabannya. Tentu tidak berubah. Masih begadang, tukang ngantuk, dan si hobi belanja. Ya, hal ini tentu kualami setelah menikah hampir setahun ini. Tapi sekarang statusku sudah berbeda dan banyak perubahan terjadi dalam hidupku. Apa itu?

Kebiasaan Semasa Hamil

Belum lama ini, aku sedang menjalani proses menjadi seorang Ibu. Kata banyak orang sih, menjadi perempuan terasa sempurna jika hamil, melahirkan, dan mengurus anak. Tapi bagi pendapat pribadiku tentu tidak. Siapapun perempuan di luar sana berani memilih menikah dan mempunyai keluarga, pun tidak dengan idealisme mereka, jika mereka bahagia, ya di situlah arti sempurna. Tak mesti menikah, punya anak dan lain sebagainya.

Tapi bagi orang yang super cuek seperti aku. Bagi orang yang tak pernah terpikirkan bagaimana proses mengandung dan melahirkan. Bagi orang yang hobinya hanya menyenangkan diri sendiri ini. Banyak hal yang membuat mataku terbuka semenjak menjalani proses kehamilan.

Dulu, aku hanya berpikir ya, apa yang terjadi hari ini dan esok saja. Selesai. Tapi sejak hamil aku berpikir jauh ke depan. Aku berpikir bagaimana proses kelahiran Kabay nantinya, bagaimana sekolahnya, bagaimana kemampuannya, sanggup kah kami sebagai orang tua mendukung segala minat dan bakat Kabay kelak.

Hal ini yang membuatku tak lagi gila belanja. Akun belanja yang saban hari aku buka, kini aku uninstall, dan tak pernah ku lirik sama sekali. Semua akun belanja mengenai informasi tentang diskon di instagram, aku unfollow. Dan ya, aku merasa cukup bahkan. Hingga aku merasa bahwa dulu aku hanya foya tak menentu belaka. Alhasil, aku pun membagi-bagikan semua kelebihan barang-barangku. Baik kosmetik, baju, hingga buku-buku yang sudah aku baca berulang kali, dan aku merasa aku perlu untuk membagikannya. Membagikan kepada yang membutuhkan.

Kebiasaan tidurku berubah. Sekarang, aku mulai rutin tidur jam 10 malam dan bangun setiap jam 1 malam. Kemudian aku akan tertidur lagi dan bangun lagi jam 4 subuh. Entah kenapa aku bersyukur sekali. Kabay membawaku kepada hal-hal yang dulu sangat sulit aku jalani. Aku pun bisa melakukan hal-hal yang dulu sempat aku tinggalkan, sekarang menjadi kebutuhan. Tanpa alarm, tanpa apapun, aku terbangun dengan rutin, dan begitupun Kabay membangunkanku sejak dalam kandungan.

Meskipun ku tahu dan sadari, proses kehamilanku ini tak mudah. Sebab aku tak pernah terpikirkan akan mengandung dengan tak terduga semacam anugerah begini. Tepatnya aku baru saja selesai operasi, dan dalam masa proses penyembuhan. Tak lama setelahnya, aku mual parah dan mengalami gejala seperti sebelum hamil. Ku pikir ya, mungkin masih dalam efek penyakit kemarin. Ternyata, setelah ditulusuri minggu demi minggu, mualku makin parah, dan mensturasiku sudah telat beberapa minggu. Akupun awalnya tak terpikirkan kalau ini adalah kehamilan. Aku berpikir bahwa ya, aku stres saja sehingga aku belum datang bulan. Iseng tes pack, dan hasilnya positif.

Seketika aku pun berkaca-kaca, tak percaya, sekaligus bingung juga, tapi ada getir yang tak bisa aku jelaskan lewat aksara, sebut saja bahagia.

Mengapa aku bingung? Ya, aku tak pernah punya pengalaman dengan bayi. Menggendong, mengasuh, bahkan bermain lucu-lucuan dengan bayi tidak pernah. Aku pun sempat terpikirkan bagaimana nantinya aku? Belajar secara otodidak ini. Ya, ternyata seiring berjalannya waktu hal itu lambat laun teratasi. Aku sekarang sudah punya teman diajak bicara, bermain, dan bahkan bernyanyi bersama, di dalam kandungan. Senangnya.

Oiya, bagi kamu yang mau mengetahui hal-hal seputar kehamilan, tips, fakta dan mitos serta hal lainnya bisa langsung cek instagramku di @vioni.id ya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here