Panggil Aku Lina

0
86
Panggil Aku Lina via pixabay.com
Panggil Aku Lina via pixabay.com

Semilir angin musim dingin menggelitik sekujur kulitku. Angin  ini yang selalu mengingaktkanku akan pertama kali menginjakkan kaki di negeri ini. Negeri yang banyak orang ingin mengunjunginya, negeri indah dengan bunga sakura sebagai daya tariknya. Tapi, semua terpatahkan ketika aku datang dan mengetahui kebusukannya.

5 tahun yang lalu aku, Lina seorang mahasiswa lugu asal desa terpencil di Indonesia mendapatkan kesempatan untuk menimba ilmu di negeri sakura. Senang bercampur bangga karena bisa membuat bahagia orang sekampungku. Tapi, tidak untuk kedua orang tuaku beliau menginginkanku untuk tetap di Indonesia bekerja dan segera menikah. Namun, karena keegoisanku itu, akhirnya aku memutuskan untuk pergi ke negeri sakura, Jepang. Tanpa restu dari keluarga aku beranikan diri, bulatkan tekat untuk berangkat ke sana.

Saat ini, aku hanyalah wanita kotor yang bekerja hanya untuk menyambung hidup. Di negeri ini aku mencari cara tercepat untuk kabur dari kesulitan-kesulitan yang pelik dan aku hanya  orang yang bekerja untuk memuaskan setiap nafsu laki-laki. Mau bagaimana lagi jika hanya uang satu-satu nya jalan yang bisa menolongku saat ini. Kebutuhan hidup sehari-hari yang tinggi, dan penghasilanku yang minim tidak mungkin dapat menolongku melanjutkan hidup di negeri orang kedepannya.

Aku tak punya pilihan lain.

Jepara. 6 maret 2003

Namaku Lalina Sri. Jika orang-orang mendengar namaku, pasti terdengar sangat tradisional. Aku orang Jawa tulen. Bapak dan Ibuku keturunan Jawa. Aku anak ke dua dari 7 bersaudara. Mempunyai banyak adik membuat ku menjadi wanita yang tegar di tambah kakak tertuaku hanya berkerja serabutan setelah lulus dari bangku sekolah dasar. Pekerjaan orang tuaku hanya menjadi petani di lahan-lahan milik tuan tanah. Dengan pendapatan yang seadanya membuat hidupku harus pandai mencari peluang..

Berkat beasiswa dari pemerintah aku berhasil menamatkan bangku kuliah di salah satu perguruan tinggi di provinsinku. Selesai kuliah dengan membawa gelar tentu ada keinginan untuk segera bekerja dan menikah agar membantu keluarga serta menyekolahkan adik-adikku. Tapi tawaran beasiswa yang datang kepadaku untuk melanjutkan studi di Jepang sangat tidak bisa ku tolak. Samapi akhirnya aku rela meninggalkan kedua orang tuaku serta adik-adikku yang suatu saat nanti akan mejadi hal paling aku sesali seumur hidup.

Jepang 12 mei 2004

Akhirnya, sampai di Negara impianku. Ternyata disini sangat dingin. Berbeda jauh dengan kampungku yang bersuhu panas, bahkan 2 jaket tebal pun tak mampu menahan suhu udara yang meningkat. Akhirnya minggu pertama aku di Jepang hanya berada di tempat tidur, terserang demam akibat penyesuaian suhu.

Aku tinggal di sebuah asrama yang khusus di tempatkan untuk setiap mahsiswa yang mendapatkan beasiswa yang sama denganku. Kamar dengan luas ukuran 5×4 yang harus di tempati oleh dua orang ini terlihat mewah untuk ukuran orang kampung seperti ku. Lagi-lagi aku teringat dengan kampung halaman. Aku membandingkan semua hal di Jepang dengan kampung halamanku. Masih teringat jelas di memoriku, setiap hari membantu orang tua bekerja dirumah dengan susah payah sebagai predikat orang kampung. Sedangkan disini, aku menjadi mahasiswa asing, dan ini seperti sebuah mimpi besar.

Disini, aku tidak begitu mengenal banyak orang, tentu semua asing dalam penglihatanku. Tapi, sebagai mahasiswa asing, tentu aku harus membuka diri agar tak terjebak dengan berbagai masalah.

Jepang 20 mei 2004

Hari ini secara resmi aku menjadi mahasiswa di universitas Tokyo. Hari yang menyenangkan bisa menjadi salah satu mahasiswa universitas tertua di Jepang. Tak sedikit orang-orang hebat di belahan dunia lahir dari universitas ini.

Hari pertamaku hanya di warnai dengan pengenalan kampus dan hanya sibuk mencari teman baru. Kagami namanya, teman yang baru kukenal tadi pagi di kantin fakultas. Dia merupakan seseorang yang sangat ramah dan memiliki wajah Jepang oriental dengan mata sipit khas yang setiap orang baru kenal maka akan terlihat seperti seseorang yang berasal dari negeri Cina di bandingkan dengan seseorang yang berasal dari negeri Jepang. Dia teman pertamaku di Jepang.

Hajimemashite, Lani desu

“Kagami desu, Rani? Souka. Yoroshiku ne

hai, sou desu.” Aku hanya bisa mengiyakan ucapanya terhadap pengejaan namaku, ia sedikit kesulitan menyebutkannya.

Jepang 25 juni 2004

Langkah kakiku tetap sama, walaupun sekarang berjalan begitu menyesakkan sehingga berlari dari hidup sudah tidak memungkin lagi. Burung merpati beterbangan mencari sebiji makanan yang tertinggal ataupun terjatuh dari tuannya. Aku disini memperhatikan hanya dengan diam setelah percakapan ku tadi malam dengan orang tuaku yang menanyakan kapan aku pulang.

“Sampean kapan mule nduk?” Kalimat itu yang sampai saat ini masih begitu terngiang di kepalaku dan tidak bisaku jawab.

Di taman ini aku termenung memikitkan keluargaku, larut dalam lamunan. Mencoba untuk menangis yang ada hanya rasa sesal yang mendalam. Ku catat setiap ceritaku, setiap rasa sedihku, setiap senangku hanya untuk ku catat karena hanya catatan ini yang tidak mengomentari  kehidupanku.

***

Kagami hanya bisa terdiam membisu ketika pertama kali mendapatkan buku catatan Lina. Teman yang di kenalnya memiliki kepribadian unik yang sangat ramah itu secara tiba-tiba mengirim buku hariannya. Kagami hanya bisa menyimpannya dan tidak bisa melanjutkan membaca setelah tahu jika Lina yang sudah lama menghilang dan tidak pernah bertemu lagi. Sudah 8 tahun yang lewat ini, akhirnya Lina menghubungi Kagami walau hanya dengan buku catatan yang ia sendiri tidak tahu apa maksud Lina mengirim sebuah buku catatan.

Malam akhirnya datang, menyelimuti setiap jiwa yang rindu akan ketenangan di balik hiruk pikuknya dunia. Dan siang yang penuh kebohongan. Serta helaan nafas kesenjangan membuat Kagami merasa tak akan sanggup lagi melanjutkan mimpinya tapi buku yang sekarang sedang di tangannya tampak menggoda untuk di lanjutkan. Akhirnya dengan helaan nafas yang panjang Kagami membuka buku itu yang tidak lain adalah catatan Lina.

Lembar demi lembar ia buka. Ia baca dengan perlahan dan dengan konsentrasi penuh. Ia tak menyangka, jika hal demikian terjadi kepada temannya itu.

Jepang 18 agustus 2005

Sudah terlalu lama aku meninggalkan keluargaku, sengaja tak kuhubungi mereka karena takut kerinduan akan menghantui ku. Hidupku perlahan-lahan mulai memasuki fase kehancuran, entah siapa yang hendakku salahkan. Apakah laki-laki Jepang itu atau pegawai kedutaan yang telah membawaku sampai aku menjadi Rina

“Siapa Rina?” Itu yang ada dalam pikiran Kagami saat ini, memuncaklah rasa penasarannya sehingga kembali di baca buku catatan itu. Sore itu ia habiskan dengan membaca buku catatan Lina sambil menyeruput teh hijau sesekali.

 

***

 

Jepang 28 agustus 2005

Hari ini aku kedatangan tamu dari Negara ku, seorang politisi terkenal yang dating ke Jepang untuk urusan dinas. Seorang bapak yang sangat bersahaja penampilannya datang ke tempatku untuk melepas penat. Layaknya seorang tamu ku layani dia dengan sepantasnya. Malu aku menerima imbalan dari uang rakyat yang dia pakai untuk jasaku, mungkin saja uang yang dipakai  itu adalah uang pajak yang dibayar Bapak Ibuku. Tapi aku bukanlah Lina lagi karena Rina seakan sudah menyatu dengan diri ku.

Malu bercampur kecewa kepada diri yang kaku diperlakukan semena-mena. Perasaanku hancur berkeping-keping tak terbendung lagi. Aku dekap tubuh ini menunggu pertolongan yang ku yahu itu mustahil adanya. Aku mandi berulang kali, karena aku merasa sangat kotor. Dan ternyata mandi tidak membuat tubuhku kembali bersih.

Osaka 8 november 2005

Perasaan rindu begitu mengganggu hatiku. Jika saja aku mengikuti kata Ibu mungkin aku sudah senang berada di tengah-tengah keluargaku saat ini. Mungkin saja hari ini aku sedang merayakan ulang tahunku yang ke 26. Sedih ketika tidak orang yang mendoakanmu bahkan mungkin sudah lupa dengan mu. Tidak ada artinya, karena hari ini lina yang berulang tahun, sedangkan aku hanya seorang Rina yang entah kapan lahirnya dan kuberharap mati secepatnya.

Tak habis pikir Kagami membaca buku itu, entah siapa Rina yang ada di dalamnya. Akhirnya Kagami memutuskan untuk segera tidur dan membawa pertanyaan-pertanyaannya ke dalam alam mimpinya.

Jepang dengan segenap keindahan alam dan budayanya memiliki daya tarik tersendiri sehingga banyak orang yang rela menghabiskan tabungannya hanya untuk melihat keindahan bunga sakura yang terkenal sebagai salah satu ikon Negara tersebut.

Malam semakin larut mmemberikan panggung untuk bintang-bintang yang dengan percaya dirinya menari mengelilingi bulan. Dalam mimpinya Kagami sebagai bulan yang di kelilingi bintang-bintang kecil. Cukup indah untuk ukuran mimpi di tengah-tengah kebingungannya.

Kagami tersentak dari tidurnya ketika tiba-tiba saja bintang-bintang kecilnya lenyap di makan oleh sesosok makhluk yang tidak lain adalah Lina. Lina yang di dalam mimpinya seperti hendak memangsanya juga. Lina yang dengan bermandikan darah menghampirinya tampak seperti ingin menyampaikan sesuatu tapi Kagami terlebih dahulu terbangun dari tidurnya.

Dengan nafas yang tidak karuan Kagami mencoba menenangkan dirinya sendiri. Dilihatnya jam sudah menunjukan pukul 6 pagi sehingga Kagami memutuskan untuk bersiap-siap pergi ke kantor. Setelah lulus dari universitas Tokyo Kagami memutuskan untuk bekerja di kantor orang tuanya. Sudah 10 tahun sejak pertemuan pertama kali dengan Lina membuatnya tertarik dengan gadis lugu itu. Gadis yang selalu protes ketika dirinya salah mengucapkan namanya lina yang selalu Kagami ucapkan Rina bukan karena Kagami sengaja memanggilnya Rina tetapi seperti kebanyakan orang Jepang yang selalu sulit untuk mengucapkan huruf  “L”. Kagami selalu ingat momen ketika ia pertama kali kenal Lina, di kantin fakultas yang ketika itu Lina sangat kesulitan berkomunikasi dalam bahasa Jepang sampai akhirnya terjadi kesalahpahaman dengan penjaga kantin. Jika teringat momen itu Kagami hanya bisa tersenyum kecil walau sekarang dia tidak tahu dimana Lina.

Setiba di kantor Kagami masih teringat dengam mimpinya tadi  malam dan buku catatan misterius Lina yang tiba-tiba saja di antar padanya. Mencoba untuk tidak curiga Kagami mulai menghilangkan pikiran-pikiran tentang buku dengan kembali bekerja.

 

***

 

Osaka 1 januari 2006

Goresan pena ini kelak akan menjadi saksi bahwa perkataan orang tua harus dipatuhi. Tulisan ini yang akan membawaku pergi jauh dari negeri ini dan kembali ke keluargaku.

Hari ini tamu banyak berdatangan sehingga Rina tidak bisa memberikan pelayanan yang maksimal. Rina sudah terlalu banyak melayani para tamu tetapi laki-laki Jepang itu selalu memarahi Rina karena tidak becus kerja katanya. Seperti seminggu yang lalu rina di marahi bahkan diancam akan dibunuh jika tidak mau melayani tamu yang datang, Rina takut dan hanya bisa menangis di dalam hati. Sekarang rina masih menangis dan tidak tahu kapan terakhir kali Rina tertawa bahagia.

Di perjalanan pulang kagami memutuskan untuk melanjutkan membaca buku catatan tersebut tekejut ketika ia membaca akhir dari buku itu kenyataan yang selama ini tidak ia ketahui, kenyataan yang belum bisa menjawab pertanyaan-pertanyaanya. Aku harus mencarinya itu yang ada di dalam benak kagami.

Sepi tidak pernah mengundang ramai bak buih pantai yang tak pernah merindukan sungai. Seperti senandung nada yang berirama mengikuti angin mencari daun telinga yang hendak menyimpan keindahannya dan akan ada nada nada-nada lainnya yang akan di senandungkan kembali walau akan ada telinga-telinga yang berbeda yang akan menampungnya. Tapi seperti buih pantai, nada tak pernah merindukan asalnya.

Seperti angin pagi ini di Osaka berbeda dengan pagi-pagi sebelumnya. Kagami yang baru sampai Osaka beberapa waktu yang lalu tidak mau menyianyiakan waktunya dan langsung mencari segala informasi yang bisa mempertemukan ia dengan Lina gadis lugu asal Indonesia yang tiba-tiba saja buku catatannya tiba di depan halaman rumah Kagami.

Asal pengirim buku itu dari Osaka, sama persis dengan tempat terakhir kali Lina menulis catatannya. Kagami mulai mencari lina dari setiap tempat-tempat pelayanan jasa wanita, tapi yang ia dapatkan hanya makian dan pengusiran. Sudah hampir seharian penuh Kagami mengelilingi kota Osaka tetapi masih tidak ada satu petunjuk pun yang ia dapatkan. Sampai akhirnya ia memutuskan kembali ke Tokyo dan akan mencari Lina di lain hari.

Tokyo, kota seribu cahaya. Kota yang tidak kenal kata sepi yang selalu mamncarkan lampu-lampu malamnya. Tokyo ibu kota dari Negara Jepang merupakan kota megapolitan yang sudah sangat tersohor akan kecanggihan teknologinya. Tokyo juga yang menjadi saksi bisu kisah Kagami dan Lina. Kisah dua anak manusia yang sama-sama diam dengan perasaanya. Ibarat romeo dan Juliet ini versi anehnya. Diam merupakan cara mereka mencintai. Diam juga yang kelak akan membawa kisah mereka.

Lina merupakan sosok wanita smpurna di mata kagami gadis berkulit sedikit gelap dengan lesung pipi menempel di kedua pipinya membuat Kagami tak bernafas ketika ia melihat Lina tersenyum. Lina selalu menjadi mimpi Kagami, masa depan kagami dan selalu ada di hati Kagami. Sampai ketika hari itu Lina menghilang tanpa sebab. Hari itu merupakan hari yang merepotkan bagi Kagami, ketika kagami harus memilih antara ujian tesis dengan permintaan mendadak dari Lina untuk menemuinya dan membantunya. Dua pilihan yang sulit bagi Kagami sehingga akhirnya ia memutuskan untuk mengikuti ujian tesisnya dan hari itu juga merupakan hari terakhir Kagami mendapatkan informasi tentang lina. Karena hari itu juga 7 tahun kemudian Kagami  harus mencari Lina, karena Lina adalah mimpi Kagami.

Terteguk kaku Kagami ketika teringat tulisan Lina untuk nya yang berada di terkhir buku catat lina.

“Kenapa Lina menulis tentang dirinya?” Pertanyaan itu yang membimbing Kagami untuk harus segera menemukan lina.

Beberapa minggu kemudian Kagami kembali mencari Lina di kota Osaka setelah ia mendapatkan informasi tentang alamat orang yang  mengirim buku catatan lina kepada dirinya. Sesampainya di alamat tersebut ternyata itu hanyalah sebuah toko yang menjual baju.

Lalu, kemana lagi harus ia mencari Lina? Alamat yang salah, membuatnya sulit mencari. Sudah hampir satu minggu ia mencari-cari di mana Lina berada. Ia tak menemukan hasil yang positif sedikitpun. Pagi bertemu malam hampir seluruh tempat yang pernah ia kunjungi bersama Lina ia datangi kembali, mungkin saja Lina memberi petunjuk demikian.

Kagami seperti kehilangan arah, ia hampir saja menyerah. Mencari orang yang berarti dalam hidupnya setelah sekian lama tidak bertemu, sungguh mustahil rasanya mencari orang yang hilang tanpa tahu bagaimana bentuk rupanya saat ini. setelah sekian tahun tak bertemu satu sama lain.

Kagami masuk kedalam sebuah bar di Jepang. Ia ingin melepaskan beban pikiranya dengan sebanyak-banyaknya meminum sake. Sudah sekian lama ia tidak meminum sake, hanya karena perayaan di kantor saja yang membuatnya meminum sake. Ia termasuk orang Jepang yang taat dan tak banyak membuat susah.

Dentuman musik begitu keras terdengar di telinga. Kedua mata Kagami sayu hampir tertutup lalu beberapa saat kemudian terbuka kembali. Ia melihat wanita-wanita Jepang menari-nari dengan pakaian yang sanagat minim. Tapi, tak sedikitpun ia bergairah untuk menyenangkan dirinya barang sejenak.

Sesekali wanita Jepang yang agresif datang padanya meminta untuk turun dan ikut menari. Tapi hal itu tentu saja ditolak mentah-mentah oleh Kagami. Ia terus menerus menyeruput sake tanpa henti. Entah sudah berapa gelas yang ia habiskan saat ini.

Penglihatannya pun semakin kabur. Matanya mulai memerah. Dan ia sudah mabuk. Ia duduk sendirian di bar yang cukup besar itu. tak ada wanita agresif lagi yang berani mencoba menggodanya. Ia begitu kasar kepada wanita yang agresif dan tidak ia kenal.

Namun, beberapa saat kemudian, ia melihat sesuatu yang aneh di pentas. Tempat hanya seorang wanita saja yang menari, dengan tidak menggunakan busana yang pantas. Serta wajah yang begitu menggoda. Ia menari pada sebuah tiang yang menggantung. Ia tahu bahwa itu adalah tarrian Pole Dance.

Ia pukul kepalanya dengan kencang menggunakan tangan. Ia tepuk berkali-kali. Ia seakan tidak percaya dengan apa yang ia lihat. Tapi bukannya aku sedang mabuk?

Pencarianku sia-sia. Sebab yang aku temukan saat ini adalah Rina. Bukan Lina.

Dengan Kenangan, ditulis pada tahun 2015

 

Tentang Penulis:

Dini Alvionita. Lahir di Kuala Tungkal, Jambi, 3 Agustus 1995. Lulusan Sastra Jepang, Universitas Andalas, Padang. Saat ini berdomisili di Jakarta. Temui tulisannya di Kumparan.com, Ladiestory.id, serta instagram @vioni.id dan @coretankala. Cerpen: Kala Senja (Padang Ekspress), Papa? dan Bahkan Satu Abad Kemudian (Antalogi Cerpen RKB).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here