Perempuan dalam Hujan dan Senja

0
64
senja di taman via kompasiana.com
senja di taman via kompasiana.com

Aku duduk ditemani hewan peliharaanku. Daun-daun sesekali berguguran, lalu angin meniupkannya perlahan. Pussy, hanya duduk disampingku sambil sesekali menjilat-jilat tangannya yang sedikit kotor. Tak banyak orang-orang yang lewat. Beberapa bangku terlihat kosong, beberapa bangku lagi diisi oleh pasangan-pasangan muda yang mungkin saja ingin menghabiskan hari bersama di taman ini. Tak ada pedagang kaki lima yang berjualan di sekitaran taman ini. begitupun, jika ingin makan makanan kecil, terlebih dulu harus membelinya sebelum pergi ke taman ini. Adapula keluarga kecil yang tengah piknik di taman ini. Suatu hari nanti, aku juga ingin menghabiskan waktu di taman ini, tentu saja dengan keluarga kecilku, tapi itu tentu saja nanti.

Langit berwarna jingga namun sedikit pekat. Pussy pun semakin tidak nyaman, berkali-kali ia mencakar cakar bajuku, sambil mengeong, barangkali hendak pulang. Tidak biasanya ia menjadi salah tingkah begini. Aku selalu membawanya keliling taman selama hampir 3 jam hingga matahari terbenam. Namun, matahari belum sempurna terbenam sementara ia sudah tidak nyaman.

Tiba-tiba saja, aku teringat akan kasur empuk di kamarku. Sudah 28 tahun aku menjalani kehidupan, sebagai teman tidurku yang setia hanya pussy kesayangan. Keluarga kecil yang selama ini aku impi-impikan tidak pernah menjadi kenyataan. Entah sudah berapa kali aku mengalami kegagalan dalam menjalin hubungan sepasang kekasih, tetap saja, senja yang ku damba tak kunjung hadir. Hampa.

Selama lima bulan belakangan, aku menjalin hubungan bersama seorang lelaki gila kerja. Karirnya terus meningkat. Ia sangat giat dalam bekerja, dan waktu yang ia punya untuk sekedar menemaniku ketika senja, hampir tidak ada. Ketika pertama kali aku mengenalnya, tentu kagum terlinatas dibenakku, sebab ia tentu berjuang keras dalam pekerjaan demi masa depannya. Dia dan aku tentu bertolak belakang, dia seseorang yang bekerja dibawah tekanan dan pekerja keras, sementara aku hanya seorang wanita yang menanti senja. Sudah 3 tahun aku tidak memulai lagi untuk menulis. Proses kreatifku seakan lumpuh. Aku pun tak memaksakannya. Ah, sudahlah nanti aku jadi mengeluh saja.

Aku melihat beberapa pasangan saling merangkul tangan. Sesekali mereka melihat kearahku bersama pussy peliharaanku. Mereka membicarakan banyak hal sesuai pendengaran dan penglihatanku dari bangku tempat aku duduk saat ini. Tak jarang aku mendengar gelak tawa yang pecah diantara pasangan-pasangan yang lewat. Kian meningkat kebahagiaan yang dirasakan bila menghabiskan hari bersama pasangan, barangkali begitu.

Aku selalu datang ke taman ini, ketika senja menjelang. Bersama pussy putih yang juga turut ikut serta. Ketika aku melihat wajah pussy, sembari mengelus-elus kepalanya lembut, seakan ia mengerti tentang apa yang ingin aku sampaikan. Ia terus mengeong-ngeong pelan seakan iba kepadaku. Energi kepedihan barangkali cepat tersalur kepada hewan peliharaanku ini.

Aku mencoba menghubungi lewat telepon. Selalu sama, tak ada jawaban. Tanganku berkali-kali mengulang tuts telepon pada tombol memanggil, namun yang kudengar hanya suara operator dengan nada bicara turun naik, sungguh menyebalkan.

“Nomor yang anda tuju tidak dapat dihubungi, cobalah beberapa saat lagi.”

Aneh rasanya, sebab aku lebih sering mendengar suara perempuan dengan mengulang kata-kata yang sama ini, suara operator yang aku hafal apa yang ia akan katakan. Dalam sehari aku dapat mendengar puluhan kali suara operator perempuan ini mengucapkan kalimat yang sama.

Tak lama, aku menerima pesan singkat darinya. Pasti, aku sudah tahu apa yang akan disampaikannya melalui pesan singkat ini.

“Sabar. Nanti saja telponya. aku sendang sibuk.”

Ya, tentu saja, aku hanya bisa membaca pesan singkat ini sambil memaksa senyum simpul memancar dari wajahku, untuk penghibur. Begitulah, aku tak bisa menjawab apa-apa. Tak kubalas tiap kali ia mengirim pesan singkat dengan nada tidak ingin diganggu seperti itu. Aku sempat berfikir, bagaimanakah jika aku ikut menjadi dirinya, gila kerja. Aku memulai pekerjaan lain, bukan hanya menjadi penulis seperti sekarang. Ah, yang benar saja, menurutku penulis bukanlah sebuah profesi. Baiklah, bagaimanakah jika aku menjadi wanita karir, bekerja di sebuah perusahaan yang besar dan selalu menerima lembur. Bukankah segala masalah menjadi perihal sampingan bila aku menjadi wanita karir?

Hari pernikahan kami semakin dekat. Genap dua bulan lagi aku akan melepas masa lajang. Tak sedikitpun aku berprasangka buruk kepadanya. Perihal komunikasi yang minim dan payah. Sesekali aku berpikir negatif, barangkali ia tak ingin menikah denganku, lalu mencoba menghindar. Aku gusar, sekejap aku menepis pikiran jelek itu. Ia tengah sibuk mempersiapkan mahar yang aku pinta, tentu saja. Ia kumpulkan uang sebanyak-banyaknya demi pernikahan kami, semoga saja begitu.

Perihal persiapan menjelang hari pernikahan, belum sedikitpun berjalan. Seakan-akan tidak ada sebuah peristiwa besar yang terjadi dalam 2 bulan kedepan. Aku belum melihat tanda-tanda peluang waktu yang ia berikan demi mempersiapkan hari pernikahan kami. Kartu undangan, katering, tempat pernikahan, hingga foto prewedding sama sekali belum beres. Sementara orang tua kami berdua telah mendesak.

Ya, jika aku menghabisan waktu di taman ini, menikmati senja, tentu banyak monolog-monolog tercipta dalam benakku. Kian kemari pikiran-pikiranku silih berganti, baik buruk selalu berubah-ubah. Kehidupan macam apa yang selama ini di damba oleh kebanyakan orang? Bukankah aku juga akan menerima kebahagiaan atas hak yang sama seperti manusia lainnya?

Aku tetap saja duduk pada bangku yang sama di taman ini. hampir setiap hari aku menghabiskan senja disini. Tentu saja bersama pussy yang selalu ikut serta. Ia sama sepertiku, menyukai taman dan senja tentunya. Lalu, kapankah calon pendamping hidupku itu bisa meluangkan waktu barang sekejap melepas rindu?

Matahari belum juga sempurna terbenam, sementara semakin banyak lembaran-lembaran peristiwa melintas dalam pikiranku. Aku tiba-tiba teringat pada dia ketika pertama kali kami mengikrarkan janji untuk saling mengasihi. Tak ada yang begitu aku ingat ketika itu. Ia acap kali mengulang kata-kata yang sama. Walaupun aku tahu, ia tak melulu mengucapkan ikrar cinta seperti lelaki mengucapkan ikrar cinta kepada wanita. Namun, ia selalu berkata:

“Tetaplah menjadi diri sendiri, dan jangan biarkan aku menjadi bayanganmu”

Aku belum mengerti tentang maksud kalimat yang selalu ia ulang-ulang itu. Barangkali aku akan temukan paham pada akhir cerita ini. Selama lima bulan kami menjalin sebuah hubungan, aku bahkan bisa menghitung berapa kali kami bertemu dan meluangkan waktu bersama.

Setiap kali kami bertemu, ketika ia mengantarkanku pulang kerumah, ia menyebutkan kalimat yang sama itu:

“Tetaplah menjadi diri sendiri, dan jangan biarkan aku menjadi bayanganmu”

Pasti, setiap kali kami bertemu kami selalu berdebat panjang. Dan ia mengakhiri pertengkaran dengan kalimat yang sama itu. Aku masih mampu menahannya. Maka dari itu, aku masih bertahan hingga detik ini.

Ternyata hari ini begitu panjang. Aku telah lama menunggu matahari sempurna terbenam. Angin sore kian kencang. Pussy masih saja mengeong-ngeong pelan. Tapi aku tidak ingin beranjak pulang. Sebelum matahari sempurna terbenam aku tidak akan beranjak pada bangku ini.

Pikiranku semakin kacau. Setelah sekian lama aku selalu memaksakan untuk berpikir hal yang positif dalam semua kerancuan ini, aku menyerah. Aku mencoba lagi menghubunginya lewat telepon. Aku tahu, ia pasti sedang istirahat pada jam-jam segini. Tidakah ia bisa mengangkat panggilanku barang sebentar?

Aku menekan tombol memanggil untuk hitungan pertama pasca beberapa waktu yang lewat. Panggilanku masuk.

“Hallo dek, kakak sedang istirahat, ada apa?”

Panggilanku masuk beserta suara yang aku tunggu-tunggu untuk didengar. Aku tak bisa menahan lagi untuk menanyakan hal ini untuk yang terakhir kali.

“Kak, apakah kakak sanggup dengan mahar yang adek pinta?”

Aku hanya mendengar helaan napas setelahnya. Lalu tiba-tiba teleponku terputus. Aku tidak mengerti mengapa begitu sulit untuk menjawab pertanyaanku. Beberapa menit aku menunggu, namun telepon genggamku tak kunjung berdering. Aku mengelus-elus lembut kepala pussy sambil menghela napas panjang.

Teleponku berdering.

“Dek, kakak tidak bisa menikah denganmu, kakak tidak bisa menikahi wanita penuh halusinasi sepertimu. Kakak tahu, kamu pasti paham akan maksud kalimat yang selalu kakak ulang-ulang di setiap akhir pertengkaran kita ”

“Tidak kak”

Telepon terputus. Jika saja ia menyanggupi, mungkin aku berhenti mencari.

Mutlak sudah, pernikahanku gagal terlaksana. Sudah genap 4 kali aku gagal melangsungkan pernikahan akibat perihal mahar yang sama. Tidak masalah. Namun tiba-tiba saja hujan turun. Bulir-bulir air itu jatuh tepat dikedua kelopak mataku. Dan terlintas kalimat yang selalu ia ucapkan berulang-ulang.

“Tetaplah menjadi diri sendiri, dan jangan biarkan aku menjadi bayanganmu”

Lalu, aku belum menemukan jawaban akan pernyataannya itu.

Padahal, aku hanya meminta senja pada calon suamiku.(*)

(Padang, 05/07/2015)

Tentang Penulis:

Dini Alvionita. Lahir di Kuala Tungkal, Jambi, 3 Agustus 1995. Lulusan Sastra Jepang, Universitas Andalas, Padang. Saat ini berdomisili di Jakarta. Temui tulisannya di Kumparan.com, Ladiestory.id, serta instagram @vioni.id dan @coretankala. Cerpen: Kala Senja (Padang Ekspress), Papa? dan Bahkan Satu Abad Kemudian (Antalogi Cerpen RKB).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here