Peristiwa pada Suatu Senin Pagi

0
69
Senin Pagi via pixabay.com
Senin Pagi via pixabay.com

Kau bertanya padaku, tentang suatu peristiwa pada suatu senin pagi. Aku tak malu-malu menceritakannya kepadamu. Sebab tak ada yang harus aku sembunyikan lagi. Kau memang seharusnya tahu.

Ketika itu kelas tengah kosong. Tak ada dosen yang mengajar di depan kelas. Tak ada juga satupun mahasiswa yang duduk di dalam kelas.  Langkahku lamban namun berputar–putar. Mencari seseorang yang mungkin saja tersembunyi di dalam kelas ini: Mahasiswa.

Lama aku telah menunggu, barangkali ada mahasiswa yang kuliah disini. Sebab aku menerima informasi dari asisten dosen mata kuliahku hari ini, kuliah pengganti di senin pagi. Aku rasa asisten dosen itu tak mungkin salah memberi informasi. Jika ada kuliah pengganti dialah yang selalu masuk untuk mengajar. Sebab dosen mata kuliah Teori Mikro II terlalu sibuk dinas keluar kota.

Asisten dosen itu tampan, menggunakan kacamata, terlihat pintar dan sangat mapan. Dia masih kuliah semseter tujuh tahun ini. Hanya dosen-dosen tertentu yang mempunyai asisten dosen. Dosen yang sibuk dinas di luar kota misalnya.

Lama berselang, tak ada juga tanda-tanda akan kedatangan seorang pun di kelas ini. Asisten dosen itu tak juga datang, aku mengirim pesan singkat pada nomor telpon genggamnya.

“Bang, apa benar pagi ini kuliah penggantinya?” Pesanku terkirim, aku memanggilnya dengan sebutan Abang, sebab dia masih muda dan belum pantas di panggil Bapak.

Lima belas menit tak ada balasan pesan. Aku mulai gelisah. Aku kembali mengirim pesan singkat dengan isi yang sama berulang kali.

Telepon genggamku berbunyi, menerima pesan dari asisten dosen itu. Akhirnya kuterima balasan pesan.

“Iya, tunggu saja disitu, biar kamu tidak terlambat terus, sebenarnya kuliah dimulai 30 menit lagi.”

Telah lewat 30 menit aku menunggu, tak juga kunjung datang orang-orang yang akan kuliah pagi ini. Begitu pun dengan asisten dosen itu. aku merasa telah di kelabui oleh asisten dosen itu. Tapi, aku singkirkan pikiran negatif, mungkin saja dia terjebak macet dan aku harus menunggu.

Aku tak menemukan siapapun dan apapun. Lalu kuputuskan untuk duduk di kursi paling belakang. Pandanganku lurus ke depan papan tulis. Tak ada tulisan apapun disitu. Aku mengeluarkan selembaran kertas kartu rencana studiku. Tidak ada jadwal untuk pagi ini. Hanya ada kuliah pengganti, mata kuliah Teori Mikro II.

Aku heran, pada senin pagi mengapa lingkungan kampus begitu sepi? Ataukah aku salah hari? Atau mungkin saja telah ada hari lain selain senin menuju minggu?

 

***

 

Dia duduk tepat di kursi dosen melirikku dengan tatapan tajam. Selang beberapa waktu kemudian beberapa lelaki masuk secara bergiliran. Aku mendengar suara kaki yang lamban berjalan kearahku. Aku tak kuasa melihat pada langkah kaki itu.

“Ini bukan hari senin Adinda. Kamu salah tentang hari ini.” Seseorang berbicara tepat di telinga sebelah kiriku.

“Hey, apa kau lupa dia tak akan lagi memiliki hari dalam hidupnya.” Ada seorang yang lain lagi berbicara.

Pikiranku seakan buncah. Suara-suara bising terdengar jelas di telinga. Aku mendengar banyak teriakan-teriakan.

“Keluar… cepat keluar.” tak ada wujud dari suara itu.

“Kamu dalam bahaya Adinda cepat keluar.” Kali ini bukan laki-laki yang berbicara. Suara halus perempuan. Namun suara itu tak berwujud tak ada satu orang perempuan pun disini.

Tiba-tiba ada sesosok bayangan yang keluar dari balik pintu. Semuanya menjadi gelap. Penglihatanku hitam. Tak lagi melihat pada papan tulis dalam arah yang jauh dari tempat dudukku sekarang.

“Adinda mengapa duduk jauh-jauh.” Suara berat itu. Suara laki-laki, sambil mengelus dengan lembut rambutku.

“Kulitmu cantik, putih mulus. Pakaian mu rapi dan bersih, hanya menggunakan tank- top hitam untuk lingkungan kampus. Kau yang mengundang kami untuk melakukan ini.” Seseorang yang lain mengelus dengan lembut lengan tanganku.

“Ah dan kau menggunakan syal bermotif bunga-bunga yang melilit di lehermu. Lepaskan saja syal murahan ini. Biarku lihat lehermu itu.” Seseorang yang lain melepas ikatan syal pada leherku.

“Rambutmu yang lurus kau kuncir rapi dengan ikat rambut berwarna merah. Ah kau sungguh menggoda. Biarkan saja rambutmu tergerai indah sayang.” Seseorang yang lain melepas ikatan rambutku dan melemparkannya ke udara.

Tiba-tiba saja darahku berdesir. Aku teriak dalam diam. Mulutku di sulut kain, entah kain apa. Mataku dibiarkan terbuka. Aku sendiri yang menutup mata. Badanku basah, peluhku tumpah.

Aku merasa banyak tangan meraba-raba badanku. Dimulai dari wajah, kemudian turun ke bagian leherku. Salah seorang bahkan ada yang meniup-niup telingaku berulang kali. Ah, banyak tangan menyentuh bagian dadaku. Aku melonjak-lonjak berontak berusaha lepas dari tangan-tangan iblis itu. Saat kusadari, tanganku telah diikat dengan tali nilon di belakang kursi begitupun dengan kaki.

“Jangan ngamuk Adinda, kami semua jinak kok.” Suara yang lain berbicara dengan nada nakal.

Perilaku iblis semacam ini membuka lembaran ingatanku pada belakang. Aku tak lagi memberontak hanya diam. Tak bergerak.

 

***

 

Pertama kali masuk universitas ini, aku memang tidak mempunyai seorangpun teman dekat. Kegiatan sehari-hari aku lakukan sendirian tanpa ada yang menemani. Ibuku tak mampu mengirimkan uang bulanan. Pekerjaannya yang hanya sebagai buruh cuci tak mampu membiayai hidupku di kota besar ini. Ibu tak lagi peduli tentang kehidupanku sekarang, sebab egoku untuk menempuh studi di kota besar tak masuk dalam logika pikirannya. Semenjak kuliah aku tak pernah pulang ke rumah bahkan jika libur semester sekali pun.

Aku harus lulus dengan cepat di universitas ini. berbagai cara aku lakukan agar mempermudah proses kuliahku. Aku menggunakan jasa tubuhku sendiri untuk melayani dosen yang nakal. Yang menawarkan diri untuk memakai jasaku. Kadang aku hanya di bayar dengan nilai A saja. Namun ada juga dosen yang membayarku dengan tambahan uang hingga tiga juta rupiah. Mereka yang mampu membayarku mahal karena sangat puas dengan ‘servis’ yang aku berikan.

Dosen mata kuliah Teori Mikro II memang sering menjadi pelangganku. Aku tak menyangka jika asisten dosennya juga tahu akan pekerjaanku. Mungkinkah dosenku sendiri yang membeberkan tentang pekerjaanku kepadanya?. Ah, tapi aku hanya bekerja pada semester pertama hingga kedua. Aku tak lagi memiliki pelanggan. Aku telah berhenti dan memutuskan untuk tidak menjual diriku lagi demi nilai dan uang.

Aku memilih pekerjaan lain. Pada semester ketiga dan keempat aku berpindah-pindah pekerjaan. Dimulai dari  bekerja di restoran, menjadi cleanning service hingga menjual jamu keliling kompleks tempatku mengontrak sekarang. Namun pekerjaan itu hanya mampu aku jalani selama dua hingga empat minggu saja. Aku malu jika orang cantik sepertiku harus bekerja kasar seperti itu. pekerjaan yang berubah-ubah terus aku jalani untuk semester ketiga dan kempat. Begitu sulit bertahan di ibu kota.

 

 

***

 

“Nah, diam begitu kan enak, kami tak perlu berlaku kasar”. Seseorang itu, aku kenal suaranya, aku kenal tingkah lakunya, mustahil dia tega melakukan ini kepadaku. Asisten dosen yang selama ini aku puja puji.

Pakaianku luruh. Mereka merobek tank-top hitamku, merobek pakaian dalam yang menutup bagian dadaku. Mereka melepas paksa celana jeansku. Merobek juga pakaian dalam yang lain. Tak tersisa sehelai pun. Satu persatu dari mereka menikmati tubuhku.

Aku merasakan benda tumpul itu satu persatu masuk kedalam bagian intimku. Terasa sangat sakit. Sudah lama aku tak melakukan hal ini. Tiba-tiba aku merasa libido dalam tubuku naik, sampai ke ubun-ubun. Pikiranku seakan-akan melayang jauh di atas awang-awang. Tubuhku menggeliat.

Aku tak menangis dan tak pula teriak ketika menatap pada pandangan mereka yang puas dan nakal. Aku tersenyum kemudian tertawa tak berhenti. Mereka tiba-tiba takut sambil berjalan mundur mereka menutup reseleting celana masing-masing. Mereka ketakutan melihatku tertawa tak henti-henti.

Aku yang sebenarnya sedari tadi bisa membuka ikatan-ikatan ini dengan mudah. Aku lepas semuanya dengan enteng saja. Aku berjalan ke arah mereka, tanpa mengambil pakaianku yang telah robek.

Mereka semua takut, namun tak mampu bergerak ke arah manapun. Kaki mereka terhenti. Tanpa perintah apapun dariku, mereka naik dan berdiri di atas kursi. Sambil membuka celana mereka masing-masing. Aku kemudian tertawa lebih keras. Sambil mengelus-elus benda tumpul itu, yang telah mereka hancurkan sendiri.

Mereka menikmati tiap-tiap sentuhanku. Aku menyentuhnya dengan lembut melalui tangan dan lidah. Aku merasa berada di puncak pekerjaan lamaku. Belum pernah aku merasa sepuas ini. Aku tertawa lagi.

Mereka masih berdiri di atas kursi, terdiam tanpa ekspresi apapun. Aku mengambil tali nilon yang melilit tangan dan kakiku tadi, aku naik ke atas kursi, melilitkannya di atas ventilasi kelas dengan kuat. Aku tertawa beberapa kali, sambil mempersiapkan tali nilon yang telah melilit kuat di leherku dan ventilasi kelas ini. Aku bening, tanpa satu pun pakaian yang menutupi. Aku lempar kursi yang menahan badanku saat ini. Kemudian aku menggantung di langit-langit kelas, tanpa teriakkan, hanya suara tawaku yang buncah sambil menatap mata mereka satu persatu.

Aku telah berada di puncak, aku merasa sangat puas. Karena mereka semua anak adam yang lengah. Aku akan abadi pada pikiran-pikiran mereka yang lusuh dan runyam. Aku tak akan membiarkan mereka tenang. Aku tunggu di duniaku yang baru.

***

Satu hal lagi yang harus kau tahu, peristiwa di suatu senin pagi yang membuat aku kembali. Karena saat kau membaca ini, aku telah menjadi abu, di dinding-dinding kelas yang kusam.

Aku tak menyesal tatkala aku lupa melihat almanak merah ketika itu, yang menyebabkanku telah menjadi abu dan telah berada di dunia yang berbeda.

Aku telah berada kekal abadi pada pikiran anak-anak adam, kepada mereka yang lengah.

 

                                                                                              (Padang, 18/11/2014)

 

Tentang Penulis:

Dini Alvionita. Lahir di Kuala Tungkal, Jambi, 3 Agustus 1995. Mahasiswi jurusan Sastra Jepang, Universitas Andalas, Padang. Bergiat di LPK (Labor Penulisan Kreatif). Cerpen: Kala Senja (Padang Ekspress), Papa? dan Bahkan Satu Abad Kemudian (Antalogi Cerpen RKB)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here