Sebuah Tutorial Menyampaikan Kata Melalui Literasi Digital

0
177
Literasi Digital via Freepik

Sepotong Puisi di Tengah Rintik Hujan

Aku ingin menjadi air, sebagai pelipur bara api di hatimu.

Aku ingin menjadi angin, sebagai pelepas peluh setelah sekian jauh kau berkeluh.

Seandainya, rintik hujan ini berhenti, mungkin saja kau lupa identitasku.

Kenalkan, namaku Banyu Langit. Aku datang untukmu yang tengah letih menghadapi hari nan terik

Namaku Banyu Langit, aku sebagai alasan agar kau tak terlalu letih terus berjalan

Berteduh barang sebentar. Menikmati sejuknya rintik hujan.

Panggil aku jika kau butuh. Panggil aku jika kau letih dan tak tahu di mana ingin berteduh.

Barangkali terik matahari itu sebagai perantara yang akan mempertemukan kita.

Pada teras ruko ini, sebagai tempat kau menungguku hingga berlalu.

Siapa Aku?

Ya, berikut tadi adalah sepenggal puisi yang saya tulis secara mendadak saat hujan turun. Beberapa penggal puisi tadi mungkin tak begitu berarti bagi siapapun yang membacanya. Tapi saya selalu berharap, di mana pun tulisan saya dibaca. Ada hati yang tengah bergatar ingin membaca tulisan saya yang paling baru kemudian.

Suatu hari saya sempat menyerah menulis fiksi. Sebab kabarnya menulis fiksi butuh ekstra yang tinggi. Soal inspirasi sebagai emas itu, tak sembarang bisa didapat dengan mudah dan percuma. Mesti ada pengorbanan, hati yang terluka, ataupun perasaan yang tak bisa kita terjemahkan dengan kata.

Pada suatu hari, saya ingin menjadi orang terkenal. Terutama dengan nama pena yang sering kali saya agunggkan pada sebuah buku cerita pribadi alias diari. Tepatnya pada tahun 2013 barulah keinginan itu benar-benar membara dan ingin segera diwujudkan. Terutama dalam bidang yang saya sukai yaitu kepenulisan.

Saya memang menulis cerita pendek, puisi, bahkan novel ketika itu. Awalnya saya tidak tahu-menahu tentang dunia digital. “Mau internetan be aksesnye susah nian” begitu pikIr saya sebelum tahun 2013 itu datang.  Memang ketika itu, untuk internet memang butuh ekstra tenaga: berkunjung ke warung internet dengan mengayuh sepeda penuh peluh di tengah teriknya matahari Sumatera.

Akhirnya memasuki tahun 2013, awal saya kuliah di kota Padang, saya mulai mengenal blog. Blog yang awalnya hanya iseng sebagai penyalur tulisan di dalam kertas menjadi di layar laptop dengan kemudahan diakses oleh semua orang.

Saya mulai dengan membuat blog gratis ketika itu. Tapi yang saya tahu ya hanya menulis dan menunggah tulisan saja, tak lebih. Tak tahu menahu soal literasi digital dan manfaatnya di masa yang akan datang

Pentingnya Literasi Digital

Literasi Digital via Freepik
Literasi Digital via Freepik

Literasi digital dianut sebagai kecakapan untuk menggunakan dunia digital untuk menyampaikan seuatu. Pelaku literasi digital ini seperti konten creator, blogger dan masih banyak lagi. Karena saya menulis di blog dan mengunggahnya di sana, bisa disebut saya seorang blogger. Meski tak terlalu melejit dengan nama yang cukup dikenal: sebab saya memang sering mengganti alamat blog dan hingga kini barulah permanen sebagai vioni.id.

Sebagai seorang blogger, saya sering kali bertanya-tanya apa sih yang bisa dilakukan selain memposting tulisan? Ternyata menyampaikan informasi atau tulisan fiksi pun ada rewardnya. MengikutI berbagai lomba misalnya.

Jujur saya memang hanya sekali seumur hidup mengikuti lomba blog. Untungnya, tak terlalu buruk ketika itu, menjadi juara2. Kali ini tak perlu bahas panjang lebar soal target juara. Saya selalu ikut membara mengikuti lomba blog yang diadakan sebuah komunitas. Komunitas yang bergerak dalam bidang literasi digital misalnya, seperti klub Blogger dan Buku Backpacker Jakarta (kubbu bpj). Lomba-lomba yang diadakan komunitas seputar penulis, pecinta buku, dan tentunya bisa dibilang pegiat literasi digital ini seperti bara api yang membakar semangat saban hari. Apalagi diadakan layaknya karnaval dengan berbagai lomba yang bisa diikuti.

Dengan memanfaatkan literasi digital, saya sebagai penulis fiksipun bisa menyampaikan pesan. Meskipun secara tak langsung, namun selalu ada hal yang ingin saya sampaikan dalam setiap tulisan yang saya buat. Entah itu tokoh, kehidupan bermasyarakat, hingga persoalan percintaan remaja yang dilanda asmara. Terdengar simple, tapi bukan berarti tak berarti suatu apa.

Begitupun halnya dengan siapapun di luar sana yang tengah menyampaikan pesan penting melalui literasi digital ini. Bertambahnya kecanggihan teknologi, bertambah pula ilmu yang harus kita gali setiap hari. Saya tidak akan membahas hoaks dalam hal ini. Sebab ya, dengan mudahnya akses internet, hoaks juga dengan mudah tersebar dan diterima. Tergantung kebijakanmu sebagai penikmat internet saja. Mudah percaya, atau mengulik secara rinci hingga ke akarnya?

Dukungan dalam Dunia Literasi Digital

Literasi Digital via Freepik
Literasi Digital via Freepik

Seperti yang sudah saya singgung di atas, pentingnya sebuah dukungan terhadap para pegiat literasi digital, salah satunya juga diadakannya lomba karnaval atau festival literasi. Memang benar, agar semangat tak surut, agar kualitas dapat diurut, tentu kita butuh pembuktian bukan?

Dengan mengikuti komunitas sesama pegiat literasi, dengan mengikuti berbagai lomba, dan tentunya ilmu pun kian bertambah. Seperti halnya saya yang menyampaikan kata melalui bidang digital ini. Semoga saja, banyak mata yang membaca, dan banyak manfaat yang diterima.

Salam literasi, teruslah menulis menyebar inspirasi.

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here