3 Curhatan Ibu Muda Menghadapi Bayinya Sendiri

Hai, kali ini aku mau ngomongin soal hal-hal yang menjadi persoalan baik kecil maupun besar bagi para Ibu muda. Ya, siapa sih yang nggak super bahagia menanti-nantikan anak setelah proses menunggu, selama proses kehamilan, selama proses itu pula kita tentu masih belajar ya!

Kebetulan aku sejak hamil bergabung dengan salah satu grup yang sangat menginspirasi nih. Kamu yang saat ini sedang hamil, sedang mengurus anak, pokoknya para Ibu deh, kamu mesti gabung deh dengan grup ini. Aku kenalin nih, aku udah lama gabung dengan Orami.

Nah, orami ini banyak banget kategorinya, aku masuk ke dua komunitasnya yaitu orami mompreneur dan orami pragnant. Selain karena aku butuh circle yang membangun, aku juga ingin mendengar banyak cerita dari ibu-ibu yang sudah berpengalaman dan juga ikut dalam proses belajar yang sangat bermanfaat ini.

Orami ini juga menyediakan platform untuk beli kebutuhan ibu dan anak dengan diskon yang gila-gilaan. Aku seneng banget karena selalu ada flash sale bahkan dengan harga mulai dari 10 ribu aja. Parah banget sih kegunaannya. Di sini juga aku bisa ikutan kuliah online alias kulwap kuliah via whatsapp aja dengan para pemateri terkenal.

Oleh karena itu aku mau berbagi beberapa informasi menarik yang aku temui di grup ini soal curhatan-curhatan para ibu muda. Apa aja sih kira-kira? Apa kamu mengalami hal serupa juga? Yuk simak di bawah ini.

Bermasalah Ketika Hamil

Bagi Ibu muda, mengandung anak pertama tentu mengalami banyak masalah. Mulai dari mual muntah, mengalami anemia, hingga moodswing yang parah. Singkat cerita dari grup aku sering banget dengerin cerita para Ibu muda yang bahkan mengalami mood parah ke suami sendiri. Nggak mau ngeliat suami, bahkan ada yang suaminya harus tidur terpisah. Disamping itu juga ada yang manja banget ke suami berbeda jauh perbandingannya sebelum hamil.

Kalau soal ngidam nih, aku sendiri punya pengalaman nggak begitu terlalu dengan ngidam yang aneh-aneh, yang mesti diturutin detik itu juga bahkan ketika tengah malam sekalipun. Untungnya ketika aku hamil Ken, nggak kayak gitu ya Bun.

Tapi sejak awal kehamilan aku itu punya keunikan sering mandi hingga enam kali sehari dan setiap mau makan atau apapun kerjaannya harus ngunyahin es batu. Itu bahkan terjadi hingga aku mendekati hari lahiran. Sempat kena sakit karena terlalu banyak minum es. Sempat usaha keras buat berhentiin ngunyah es, tapi aku malah jadi muntah parah dan nafsu makan berkurang. Alhasil aku ngide untuk bikin es dari buah-buahan, ya biar lebih bermutu aja nutrisinya bukan sekadar air aja. Dan anehnya, setelah melahirkan, aku sama sekali nggak doyan dengan es lho. Aku malah suka dengan air dengan suhu hangat. Nggak ada sama sekali hasrat ingin minum es.

Bingung Mengatasi Tangisan Bayi Pertama Kali

Pertama kali menghadapi bayi dengan tangisan melengking tentu ada perasaan takut dan cemas. Kita nggak tahu dia kenapa, tebak menebak hingga akhirnya ia bisa adem sendiri. Meskipun demikian, semua Ibu pasti bisa melewatinya. Hanya memang cara kita semua pasti berbeda-beda. Aku punya pengalaman ketika pulang dari rumah sakit pertama kali dan menuju rumah, sesampainya di rumah Ken rewel banget. Badannya merah semua dan tangisannya melengking. Aku takut dan cemas sekali waktu itu. Lebih-lebih kami tidak punya keluarga dekat di sini. Aku pun minta tolong tetangga untuk menemani tidur ketika malam hari. Karena ya aku dan suamiku sama-sama tidak punya pengalaman sama sekali.

Untungnya, tetangga di daerah rumahku ini baik banget, saling tolong menolong bahu membahu. Hampir dua minggu penuh aku ditemani tidur oleh tetangga yang bergantian. Meskipun begitu aku tetap tidak bisa tidur pulas. Aku bahkan memegang erat tangan anakku takut-takut dia bangun dan aku tidak mendengar tangisannya. Sebab ya, kasusnya juga parah yaitu suamiku kalau udah tidur pules banget, mau sekencang apa juga tangisan bayi ia tidak akan bangun. Makanya aku minta tolong tetangga.

Memusingkan Omongan Orang Lain

Rata-rata ibu-ibu muda ya tentu seringkali kecewa mendengar omongan orang lain. Menyakitkan, dan bahkan bisa menyebabkan mood swing yang parah. Ya, bener banget, percaya nggak percaya gara-gara omongan tetangga, omongan teman, omongan keluarga, mental kita sebagai Ibu bisa jatuh.

Salah satu korbannya aku dan juga kamu yang sedang membaca ini. Dulu saat hamil, aku dibilang “kok masih terlihat kurus padahal udah hamil gede. Wah, anaknya pasti nanti kecil.” Padahal Ken termasuk bayi yang pertumbuhannya melebihi tabel pertumbuhan bayi dalam kandungan. Jadi saat mendekati hari melahirkan, aku disuruh dokter untuk mengurangi makanan manis dan nasi. Jadi aku mengganti cemilan dengan buah-buahan segar. Ketika dilahirkan Ken memiliki berat 3060 gram. Alhamdulillah, menurutku itu ukuran yang cukup.

Nah, setelah melahirkan tentu banyak omongan orang lagi yang bikin tambah stres. Salah satu contohnya begini “Kok bayinya nggak dijemur dibuka bajunya semua sih, disini gak panas, itu di tengah panas gitu, biar kena semua badannya.”

Aku sih hanya senyum sambil ketawa kecil aja dalam hati berkata Ya Allah sabarkan aku dari orang-orang yang berlagak jadi dokter semua. Faktanya dari dokter anak sendiri bilang, kalau jemur bayi tidak boleh dibuka semua bajunya, dan tidak boleh mengenai matahari langsung. Matanya bisa silau dan mengakibatkan bayi panas.

Aku heran pada Ibu-ibu yang banyak ngomentarin urusan orang, merasa paling benar, dan merasa pengalamannya sama dengan pengalaman orang lain. Ya, seharusnya sih, semua anak penanganannya kan berbeda. Betul. Coba deh para Ibu di sini ada yang ngalamin seperti aku nggak?

 

 

 

 

 

 

0 Points


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *