Riona Bersama Bangau Terbang

Riona berumur tujuh belas tahun. Gadis remaja Sekolah Menengah Atas yang tidak memiliki seorang pun teman dekat. Teman-teman sebayanya selalu menghindar setiap berjumpa dan berselisih jalan.

“Nggak kamu, nggak adik kamu sama aja, sama-sama autis! Hahaha.” pecah tawa teman-teman sekelasnya ketika kelas pelajaran Fisika kosong karena guru-guru tengah rapat mendadak terkait urusan sertifikat-sertifikasi. Padahal dia selalu menunggu-nunggu kelas Fisika, seperti kecintaannya pada dua mata pelajaran lain; Kimia dan Matematika.

Riuh hina dan olok-olok teman-teman Riona tidak membuatnya pusing, jengkel, sedih atau marah. Karena hal itu sudah biasa terjadi. Selalu sama setiap hari. Mungkin teman-temannya iri, karena dia yang selalu bisa menjawab pertanyaan apapun dari guru. Dia tidak membutuhkan oretan di kertas sedemikian rupa untuk menyelesaikan soal yang berkaitan dengan rumus-rumus. Pernah ketika ulangan berlangsung, teman-teman memaksanya untuk menuliskan seluruh jawaban di kertas kosong yang mereka siapkan 30 menit sebelum ulangan usai. Mereka tahu, dia selalu bisa menyelesaikan ulangan lebih cepat. Tetapi, Riona tak mau menulis untuk mereka. Dia tak mau memindahkan apa yang sudah dikerjakan untuk mereka. Umpatan-umpatan dengan nada pelan pun mulai bergemuruh datang. Dasar pelit, rakus, sok, awas ya nanti di luar.

Icha, yang duduk tepat di depannya dengan gerakan cepat mengambil paksa kertas ulangan Riona. Refleks tangan Riona merebut kembali kertas itu sehingga menimbulkan derit bunyi yang ngilu pada meja dan kursi Icha yang beradu. Sontak, seisi kelas termasuk pengawas seperti terbangun. Seluruh mata tertuju pada mereka dan kertas ujian yang tidak lagi utuh. Setengah bagian ada di tangan Riona dan setengahnya lagi buru-buru dijatuhkan Icha ke lantai. Riona menjerit. Menjerit sejadi-jadinya. Sehingga, guru-guru pengawas dari kelas lain termasuk wakil kepala sekolah datang tergesa-gesa menghampiri kelas.

Icha terkena skorsing karena kejadian itu. Mereka semakin menjauh dan membenci Riona. Semenjak saat itu, olok-olok adalah hal wajib yang mesti mereka lakukan terhadapnya. Persis seperti saat sekarang dimana kelas ditinggal guru yang tengah rapat.

“Ah, kenapa guru-guru harus mengadakan rapat pada saat jam sekolah masih berlangsung?” gumamnya dalam hati.

Saat-saat seperti itu dia hanya merindukan semua kotak-kotak yang selalu memenuhi setiap sudut kamar. Kotak-kotak yang berisi origami bangau tertulis segala perasaannya itu.

***

Kertas origami merupakan sesuatu yang paling berharga dalam hidupnya. Setiap pagi dia menuliskan kejadian-kejadian apapun pada origami-origami itu. Dia selalu memiliki banyak persediaan kertas origami berukuran sedang. Jika dia sedang senang, dia akan menulis di kertas origami berwana merah, kuning atau biru tua. Jika dia sedang marah atau sedih, dia akan menulis di kertas origami berwarna hitam serta ungu. Jika dia sedang bingung, dia akan menulis di kertas origami berwarna hijau dan biru muda. Jika dia sedang jatuh cinta, dia akan pilih menulis di kertas origami berwarna merah muda. Biasanya, setiap pagi setelah menulis di kertas-kertas itu, kemudian dia akan melipatnya menyerupai bangau dan disimpan pada sebuah kotak.

Setiap hari, segala sesuatunya selalu sama. Mungkin, tepatnya semenjak dia menginjak bangku sekolah menengah pertama. Kotak-kotak origami itu hampir ada di setiap sudut kamar. Namun, dia tak pernah berpikir sedikit pun untuk membuang mereka. Walaupun aku selalu mengomel ketika melihat kamarnya berantakan oleh kotak-kotak yang berisi kertas-kertas origami itu.

Riona mempunyai seorang adik laki-laki. Postur tubuhnya tinggi besar. Jika ia tidak memakai seragam SD-nya, mungkin orang-orang tidak akan percaya ia masih duduk di bangku sekolah dasar. Tubuhnya tak mampu menyembunyikan umur yang sebenarnya lebih tua dari ukuran teman-teman sebayanya yang baru kelas 3. Ini juga yang kerap menjadi bahan olok-olok teman-temannya.

Mereka dibesarkan oleh Ibu yang menjadi orang tua mereka satu-satunya saat ini. Mereka menyebutku Ibu. Panggilan penghargaan atas jerih payahku melahirkan dan membesarkan mereka.  Kadang, aku berpikir bisa saja pergi seperti ayah mereka dari rumah ini, gara-gara prilaku mereka yang menjengkelkan. Rumah seringkali seperti kapal pecah karena Allan kerap membanting barang-barang apapun yang ada terutama ketika dia pulang sekolah. Sementara Riona, jika tidak di sekolah maka dia akan mengunci diri di kamar seharian. Tetapi, begitulah seharusnya seorang Ibu. Tidak pergi. Aku bertahan bersama anak-anakku yang di luar ukuran normal anak-anak lain.

***

Hari itu, Riona berangkat sekolah seperti biasa. Menggunakan motor matik karena jarak antara rumah dan sekolah cukup jauh. Sekitar satu jam jika ditempuh dengan kecepatan sedang.

Pagi itu, entah kenapa setelah bangun tidur, dia memilih untuk tidak menulis di kertas origami. Dia segera bersiap-siap bangun dari tempat tidur, merapikannya, lalu beranjak ke kamar mandi. Matanya setengah tebelalak melihat jam dinding telah menunjukkan pukul 06.30 pagi. Dia bisa saja terlambat jika memilih sarapan dulu. Dia mengambil kunci motor dengan tergesa, rambutnya tak tersisir dengan rapi,  memakai helm, memakai sepatu, dan segera pergi. Aku mengomel-ngomel namun dia tetap bergegas pergi dan tanpa salam.

Dia tidak melihat jika ada truk yang melaju dengan kecepatan tinggi. Entah apa yang ada dipikirannya saat itu, melamun. Yang dia rasakan setelah itu hanya pusing dan pandangan menjadi kabur.

***

“Anak Ibu mengalami anterograde amnesia. Hilang ingatan akut. Kerusakan yang terjadi pada area di dalam otak yang vital untuk proses mengingat. Ini tidak seperti hilang ingatan sementara. Semua ini akibat kerusakan otak dan luka akibat benturan.” Ucap seorang dokter setelah memeriksa keadaan Riona.

“Apa yang harus saya lakukan dok? Apakah harus operasi agar secepat mungkin dia sembuh? Karena sebentar lagi dia akan menghadapi ujian nasional.”

“Ibu hanya perlu lebih mengontrol dia, karena dia tidak memiliki ingatan yang utuh lagi, dia bahkan lupa apa saja kegiatan-kegiatan sebelum dia kecelakaan.”

Aku hanya diam. Tak bersuara, tak memberi tanggapan atas ucapan terakhir dokter. Aku harus bagaimana untuk selalu menemani Riona yang sedang sakit? Sementara aku harus bekerja agar bisa membiayai rumah sakit dan kehidupan kami kedepan. Aku tak lagi sanggup menyimpan badai yang siap diturunkan. Tangisku pun runtuh.

***

Riona mengendap, berusaha untuk tidak terlihat. Hampir setiap malam, sekelebat bayang bersayap datang ke kamar ini. Memaksanya untuk turun dari tempat tidur dan menyuruhnya terus melompat ke luar jendela. Dia tidak ingat bagaimana hari-hari sebelum dia mengalami kecelakaan. Badannya selalu menggigil. Kadang seperti tercekik. Sejak itu, dia selalu mengunci rapat jendela. Seluruh tirai dia tutup supaya bayang itu tidak lagi datang.

Dia tidak ingat bagaimana kamar ini selalu berantakan dengan berbagai kotak berisi bangau-bangau kertas. Coretan yang ada di kertas berbentuk bangau itu telah dia baca satu persatu. Namun, dia tak mengerti. Kejadian-kejadian di dalamnya. Tak ada tanggal yang bisa jadi pedoman. Sekarang, selain kotak-kotak yang berserakan, kamarnya juga penuh dengan kertas warna warni yang berbentuk bangau-bangau itu. Dia tak ingat, bagaimana dia dulu bisa membuatnya.

“Ah, apa ini? Aku tak ingat tentang lipatan-lipatannya yang rumit.” Keluhnya setengah berteriak.

Saat dia membaca tulisan-tulisan di kertas origami itu, seakan bertarung dengan masa lalu. Bertarung dengan ingatan yang coba dia bongkar. Dia tak punya teman yang pernah di ajak bercerita. Jadi dia tak punya saksi kunci tentang hidupnya. Dia tak pernah bercerita apapun kepada siapapun, jadi dia tak ada pilihan lain selain membaca kertas-kertas origami itu. Semakin dia membacanya satu-persatu kepalanya semakin terasa sakit.

Dia takut jika nanti semua bangau-bangau origami itu mengejarnya. Dia mengunci lemari dan menyimpan beberapa kotak berisikan origami itu. Dia menutupnya rapat-rapat, dan tak akan membuka lagi. Dia mencari tentang hal lain yang bisa jadi pedoman. Dia mencari di balik meja belajar, semua penuh dengan buku fisika, kimia dan matematika. Hanya ada satu buku bahasa di sana. Dia mencari lagi barangkali dia mempunyai buku harian yang mencantumkan tanggal. Namun dia gagal menemukannya.

Mungkin dia memang tidak punya buku harian. Dia memang benar-benar tidak punya pilihan lain selain membaca origami-origami bangau itu. Semua kejadian-kejadian di hari sebelum dia kecelakaan ada di situ. Namun sejumlah ragu dan resah bertebaran di antara kertas-kertas origami yang berserakan dan bangau-bangau yang seakan-akan ingin muntah.

Matanya tak sanggup membuka dan membaca origami-origami kertas itu. Dia takut jika pada kertas itu tertulis bahwa dia dulu sempat sakit dan menderita suatu apa. Dia mencoba menahan perasaan diri untuk segera membuka dan membaca. Lagi-lagi dia tak punya pilihan lain untuk memulihkan ingatan. Dia harus membaca semua ini dengan cepat.

Dia menjalani hari-hari ke depan dengan penuh rasa takut. Matanya menunjukkan hal yang tak biasa ketika melihat tulisan-tulisan pada origami itu. Seluruh kejadian yang pernah dia tulis adalah tentang hina, olok-olokan semata. Banyak hal tentang kesakitan di kertas-kertas origami itu.

Di sekolah dia mengerjakan matematika dengan kaku, menjawab soal fisika dengan lambat dan sulit. Tabel periodik yang terlihat mudah tak mampu dia ingat lagi. Guru-guru di sekolahnya mengatakan bahwa dia harus istirahat panjang dan terapi.

“Riona, kamu sepertinya harus istirahat panjang dan mengalami terapi dulu. Sebelum kamu melanjutkan sekolah karena sebentar lagi kita akan menghadapi ujian nasional. Ibu khawatir jika penyakit kamu tidak ditangani dengan cepat akan sangat mengganggu ujian kamu.” ucap Bu Shanti serius. Bu Shanti,  wali kelasnya di kelas SBI XII IPA 1.

Dia tak pernah bisa membayangkan jika hari-hari ke depan akan berubah begitu dengan cepat. Hanya dengan kejadian senggang waktu sebentar saja semua berubah. Dia tak lagi bersahabat dengan pelajaran menyangkut rumus-rumus dan angka. Dia berubah menjadi seseorang yang begitu takut dengan barang yang selama ini selalu mengisi hari-harinya. Kertas origami. Tak pernah lagi dia mengisi kertas itu, walaupun dia tahu kertas itulah satu-satunya yang akan membantu ingatannya kembali.

Dia tak lagi melihat apapun selain kertas origami berbentuk bangau itu di kamar. Terlalu banyak sehingga membuat kepalanya sakit, seakan berputar dan matanya tak beraturan.

Aku heran melihat kamarnya yang terbuka, berbeda dari biasa. Dia berputar-putar di sekitar kamar, menggaruk-garuk kepala yang tak gatal, menggumam yang tak jelas dan dia berfikir jika seketika bangau-bangau kertas itu terbang dan akan menyerang. Dia khawatir jika seisi rumah akan hancur dan kacau akibat bangau kertas ini menjadi hidup.

“Riona mengapa masih di kamar? Ayo makan dulu nak, supaya cepat sembuh. Biar bisa ujian” Aku terus berusaha membujuk.

Semua makanan terasa hambar. Sesekali masakanku disebutnya terasa asin. Dia kehilangan suara? Bukankah sedari dulu dia jarang bicara?

Dia lupa. Mungkin dia bisa mencari hal-hal tentang kebiasaannya di kertas origami bangau itu. Dia harus memulai untuk mencari informasi dari kotak yang mana? Adakah sesuai perasaan kotak yang tersimpan ini?

***

Suatu pagi ketika semua siswa/siswi SMA se-Indonesia tengah berkutat dengan lembaran-lembaran soal ujian nasional, sementara Riona tengah berkutat dengan lembaran-lembaran kertas origami kosong yang tersisa. Dia tak mengikuti ujian nasional.

Aku pasrah dengan keadaannya yang tak lagi tertolong. Bukan karena kecelakaan yang menimpanya beberapa bulan yang lalu, yang mengakibatkan Riona mengalami anterograde amnesia, namun tentang kesadaranku bahwa bangau origami itu hanya terbang di dalam kepala Riona.(*)

 

0 Points

Papa? Cerpen Dini Alvionita
Next Article


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *