3 Poin Penting Mengapa Harus Memilih Hidup Minimalis

Artikel ini akan menjadi panjang, karena selain curahan juga menjadi sebuah percobaan untuk hidup lebih bahagia.

Sebenarnya aku sedang tertarik dengan ilmu minimalis. Aku mulai mencari tahu, apa itu minimalis, dan cara penerapannya. Mulai dari ilmu minimalis ala orang barat: Francine Jay. Atau juga dari ilmu minimalis ala orang Asia, Jepang: Fumio Sasaki. Semuanya dapat diterima, dan membuatku berkata: “iya juga ya” pada akhirnya.

Sampai hari ini proses menjadi minimalis masih aku pelajari dan coba perlahan-lahan aku terapkan. Awalnya memang berat, mengemas barang-barang yang menumpuk, mencoba meminimaliskan pola piker, serta mencoba meminimaliskan segala aktifitas agar efisien dan tak ada yang terbuang sia-sia.

Kabar baiknya, meskipun proses ini masih berjalan, sedikit-demi sedikit stresku hilang. Ya, walaupun tidak sepenuhnya juga menghilang sih. Sadar atau tidak, ternyata aku menikahi seorang minimalis, suamiku.

Sejak kecil ia dibesarkan dengan kesederhanaan dan cukup. Tak ada yang berlebihan dan semua sesuai kebutuhan. Beda halnya denganku. Aku terbiasa untuk mendapatkan yang sebenarnya aku tidak begitu butuhkan, alias hanya keinginan sesaat belaka.

Seiring berjalannya waktu, aku mulai sadar, kok hidupku segini-gini aja. Tak ada dana darurat, dana cadangan, tabungan pension, bahkan tak bisa mencicil asset yang sangat penting untuk masa depan anakku nanti.

Memang ya, ternyata memiliki anak membuat pola pikir jauh berubah. Dulu, ketika nikah dan hanya bersama suami saja, aku masih sempat egois dan berpikir, ya hidup sekali aja, gapapa lah kalau beli barang ini, ini dan itu. Saat memiliki anak, sepertinya kok nggak ada kata cukup untuk memenuhi kebutuhannya agar dia selalu mendapatkan hal yang paling terbaik.

 

Kenapa sih kita sebaiknya hidup minimalis?

Ilustrasi gambar via pexel.com

 

  1. Seharusnya Pengeluaran Hanya untuk yang Terbaik

Kebiasaan burukku sedari dulu sebelum menikah hingga kini adalah belanja terlalu berlebihan. Dulu sejak kuliah, ketika merasakan ada pemasukan dari uang saku dan kerja paruh waktu, aku sangat suka belanja, bepergiaan, dan menghabiskan uang yang sebenarnya nggak butuh-butuh amat.

Sekarang, seiring perkembangan zaman, semua serba digital, kebiasaan buruk belanja itu pun makin berlarut tinggi, apalagi aku sudah kerja tetap dan berdomisili di Jakarta. Shopeepay, gopay, akulaku, kartu kredit dan masih banyak lagi. Semuanya berfungsi dan aktif hingga saat ini.

Aku pun sering membeli barang yang bukan terbaik, alias tidak butuh-butuh amat. Ketika ada diskon di shopee aku belanja di toko tersebut, scroll ke beranda toko tersebut akhirnya checkout untuk banyak produk. Ketika sampai di rumah, baru menyadari ternyata aku nggak begitu butuh barang ini.

Kalian juga pernah mengalami hal demikian nggak sih? Sebegitu borosnya aku, aku juga sering stok barang untuk kebutuhan rumah tangga. Kebutuhan makanan, kamar mandi, dan terlebih sekarang punya anak, tentu kebutuhan baby seperti popok, sabun, dan lainnya.

 

  1. Tak Ada Pendapatan Berlebih untuk Dana Darurat

Setelah membayangkan seisi rumah yang penuh sesak dengan barang, baik yang sedang digunakan dan juga yang akan digunakan alias stok, aku baru sadar ternyata hal inilah yang membuatku susah untuk bahagia.

Aku berpikir, ketika ada uang lebih, aku harus membelanjakannya lagi, lagi dan lagi. Pada akhirnya tak ada dana darurat yang tersimpan. Ketika aku lihat lemari pakaian, lemari tempat penyimpanan barang, dan lemari buku, serta banyak box container, aku berpikir hal inilah yang menyebabkanku tak kunjung memiliki dana darurat.

Selain membuang-buang waktu untuk membersihkan barang alias maintenance benda mati tersebut, otakku pun penuh memikirkan hal yang sangat merugikanku itu. “Duh, kain menumpuk, belum dicuci, belum dijemur, belum disetrika.” Bagaimana jika baju yang kita punya hanya benar-benar yang penting saja, maintanancenya akan lebih mudah nggak sih?

“Duh rumah belum di sapu, belum beresin sampah, belum lagi mindahin barang peralatan makeup dan perawatan diri” Bagaimana jika semua barang yang dipunya itu memang yang penting-penting saja, dan sekalinya habis banget, baru dibeli lagi. Tapi aku selama ini apa? Stok sebanyak mungkin dan merasa takut kekurangan aja, takut diskonnya nggak ada lagi. Takut nanti sewaktu-waktu dibutuhkan nih barang.

Padahal konsep marketing kan, semua di mark up dulu, lalu dibeli label diskon deh, agar pembeli yang berpikiran “Poor Mindset” seperti aku ini membeli. Kenapa “Poor Mindset”? Ya iyalah, setiap ngeliat barang diskon, merasa itu belum dimiliki, dan merasa perlu. Padahal kalau dipikir-pikir lagi barang itu ya nggak butuh-butuh banget. Masih bisa kok hidup tanpa barang itu.

Jangan tersinggung ya, karena ketika aku memahami dan memerlajari konsep “Poor Mindset” ini aku merasa banget ketonjok, dan ngerasa iya, ini aku banget. Ya, kalau kita ingin memiliki asset yang berlimpah, tabungan yang cukup hingga pension, pasti tidak memiliki kebiasaan buruk semacam ini. Seolah-olah nggak ada hari esok aja buat ngebeli barang tersebut. Kenapa aku baru menyadarinya sekaran? Nggak apalah dari pada tidak sama sekali.

 

  1. Sudah Diajarkan Agama

Rasulullah SAW bersabda, “Tidak akan bergeser dua telapak kaki seorang hamba pada hari kiamat sampai dia ditanya (dimintai pertanggungjawaban) tentang umurnya kemana dihabiskannya, tentang ilmunya bagaimana dia mengamalkannya, tentang hartanya: dari mana diperolehnya dan kemana dibelanjakannya, serta tentang tubuhnya untuk apa digunakannya.” HR. Tirmidzi.

 

Hal inilah yang mendasar untuk kita memilih menjadi seorang minimalis. Bukan berarti pelit, melainkan lebih memprioritaskan apa yang benar-benar dibutuhkan, bukan apa yang hanya diinginkan saja. Selain poin tiga di atas, sebenarnya aku juga akan melanjutkan tulisan ini dengan topik yang sama untuk postingan lanjutan. Sebelumnya cantumkan dulu pendapatmu tentang minimalism di kolom komentar ya! Thank you.

0 Points

Origami Love Cerpen Dini Alvionita
Previous Article


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *