Senja di Sebelah Mata Ibu

Sepulang dari sekolah, aku mengetuk pintu dengan keras. Tanganku setengah basah karena peluh. Suaraku parau mengucapkan kata salam. Dua kilometer aku berjalan kaki dari sekolah menuju rumah, letih. Aku kehausan.

Assalamualaikum ….”

Tak ada jawaban dari dalam rumah. Aku mengetuk pintu dengan lebih keras lagi. Aku gerah, baju sekolahku basah. Aku membuka kancing bajuku, melepaskan dasi, dan meletakkan tas di lantai tanpa membuka sepatu terlebih dahulu. Lantai rumahku kotor. Aku duduk di depan pintu rumah dengan alas selembar kertas.

Setelah berjam-jam aku menunggu Ibu, namun ia tak kunjung datang. Aku tak punya telepon genggam untuk menghubungi Ibu agar segera pulang. Uang jajanku setahun penuh kurasa tak sanggup membeli telepon genggam yang paling murah sekali pun.

Aku lupa jika Ibu tentu belum pulang dari bekerja ketika aku pulang sekolah. Pintu rumah tak akan ada yang membuka sebelum Ibu pulang bekerja pukul lima sore.

Aku anak tunggal. Perempuan tujuh belas tahun yang kini tengah duduk di bangku sekolah menengah atas kelas sebelas. Ayah meninggal ketika aku duduk di bangku kelas lima sekolah dasar. Setelah Ayah meninggal, kehidupan keluarga kami berubah. Ayah yang hanya bekerja sebagai karyawan kantor swasta tentu tak memiliki uang pensiun agar meneruskan kehidupan kami. Ibu terpaksa harus bekerja.

Ibu tak pernah meminta bantuan kepada orang lain. Bahkan orang tua Ibu sendiri. Ibu diusir dari rumah karena memutuskan menikah dengan laki-laki yang jauh lebih tua darinya. Ibu berasal dari keluarga orang kaya dan kategori keluarga Ibu lebih dari kata mampu.

Kita tidak pernah tahu dari keluarga mana kita dilahirkan Nak, entah itu dari keluarga miskin ataupun kaya. Kita tidak juga pernah tahu, kita terlahir dari keluarga berada ataupun tidak. Ibu sempat berucap demikian ketika kami berduka sangat mendalam saat kepergian Ayah.

Entah apa yang membuat Ibu begitu mencintai Ayah. Walaupun jarak umur di antara mereka sangat jauh, dua puluh satu tahun. Ibu menikah ketika berumur sembilan belas, dan Ayah genap berumur empat puluh tahun. Ketika itu, Ibu baru saja menamatkan bangku sekolah menengah atas. Ibu tidak kuliah. Ibu tidak memiliki keahlian lain selain memasak dan membersihkan rumah.

Dahulu tugas Ibu hanya mengurus aku dan Ayah. Pagi-pagi sekali Ibu bangun. Sebelum salat Subuh, Ibu menyiapkan sarapan, menyiapkan baju sekolahku, dan menyiapkan baju kerja Ayah tentunya.

Tak lupa Ibu selalu memberi bekal makanan kepada aku dan Ayah sebelum berangkat. Senin hingga Rabu Ibu menyiapkan bekal nasi goreng, roti bakar, dan bakpao isi daging. Kamis hingga Sabtu Ibu menyiapkan bekal yakisoba (roti isi mi goreng), dorayaki dilapisi susu cokelat, dan okonomiyaki (telur goreng campur sayur-mayur). Ibu pandai memasak masakan Jepang. Sejak kecil aku banyak mencicipi masakan Jepang buatan Ibu, tentunya dengan racikan ala orang Indonesia.

Aku sempat meminta Ibu menikah lagi. Agar Ibu bisa mengurusku dengan sepenuhnya seperti dulu. Agar Ibu tidak perlu bekerja sebagai pembantu rumah tangga lagi seperti sekarang. Namun Ibu menolak. Ibu masih menghargai Ayah dan tidak ingin menggantikan Ayah dengan siapa pun.

Ibu memiliki rambut yang hitam lurus, bersih dan rapi. Kulit Ibu juga terawat, putih seperti kulit gadis-gadis Jepang. Matanya sipit, hilang ketika tertawa. Ibu memiliki tubuh yang langsing dan tinggi. Fisik Ibu sempurna, idaman banyak wanita.

***

Semenjak peran Ayah digantikan oleh Ibu, pekerjaan apa pun akan Ibu lakukan asalkan aku bisa makan tiga kali sehari, giziku tercukupi dan dari hasil yang halal tentunya. Rumah majikan Ibu jauh dari rumah kami, butuh waktu enam puluh menit menuju ke sana.

Ibu pergi pagi-pagi sekali. Ibu siapkan sarapan, bekal, dan baju sekolahku sebelum salat Subuh. Ketika aku bangun, Ibu telah merapikan semuanya dan menghilang tanpa pamit. Kasih sayang Ibu masih terlihat dalam rasa masakan yang dibuat setiap harinya. Dengan rasa ikhlas dan penuh cinta masakan Ibu selalu enak. Aku ingin berbincang banyak dengan Ibu. Aku rindu tertawa bersama Ibu sepulang sekolah.

Ketika Ayah masih hidup, kami bertiga, lengkap. Lalu sekarang Ibu memiliki peran sebagai Ayah juga. Namun rasanya ada satu kakiku yang patah setelah Ayah pergi. Aku merasa berjalan dengan kaki yang pincang. Aku berjalan dengan tertatih. Aku sempat putus asa melihat kehidupan ekonomi kami. Bahkan melihat masa depan pun rasanya aku tidak mampu.

Mata Ibu selalu sendu, namun Ibu tidak pernah menangis. Mata Ibu juga sayu, namun Ibu tak pernah mengeluh. Mata Ibu seperti senja. Aku sadar bahwa dia juga sementara. Walaupun Ayah pergi lebih dulu, Ibu melengkapi peran Ayah dengan tegar dan sungguh-sungguh.

 

***

 

Tak biasanya Ibu pulang hingga senja begini. Aku berdiri lalu mondar-mandir di depan pintu rumah. Jantungku berdetak jauh lebih kencang dari biasanya. Perasaanku tak enak. Semoga saja tak ada kejadian buruk yang terjadi. Namun tetap saja pikiran-pikiran negatif muncul di kepalaku. Aku berdoa dan terus berdoa agar Ibu sampai di rumah dengan keadaan baik-baik saja.

Aku khawatir jika terjadi sesuatu dengan Ibu. Apakah Ibu terkena musibah di jalan? Aku tak tahu apa yang harus aku lakukan lagi selain menunggu dan berdoa. Hampir dua puluh menit lebih aku digelayuti perasaan kalut dan waswas yang memuncak dari waktu biasa Ibu pulang.

Sembari aku mondar-mandir di depan teras rumah, aku mendengar suara langkah kaki. Semakin lama semakin terdengar jelas. Semakin mendekatiku. Suara langkah kaki ibu. Akhirnya Ibu pulang. Ibu menyapaku dengan senyum sangat teduh. Walaupun aku tahu Ibu sungguh letih karena telah bekerja dari terbitnya fajar hingga petang, namun wajah Ibu tak pernah memancarkan kelelahan.

Dulu Ayah bekerja sampai petang. Ayah kelelahan, namun ia juga tak pernah mengeluh. Tiba-tiba saja ada yang menusuk perasaanku saat ini. Ketika khawatir menunggu Ibu yang tak kunjung datang. Aku tersadar teringat Ayah, aku merindukannya.

“Nak … kamu lihat senja di langit sana? Merah jingga dan sangat indah,” ucap Ibu sambil menunjuk langit.

“Iya, sangat indah Bu. Sama seperti senyum Ibu,” jawabku dengan senyum.

Jika kulihat senja hari ini, aku teringat pada kebiasaan kami berdua menunggu Ayah pulang bekerja sambil menikmati senja. Sungguh aku sangat ingin kejadian-kejadian itu terulang. Saat aku dan ibu menunggu Ayah dengan berbincang bersama di depan teras rumah. Ibu selalu bercerita kepadaku tentang banyak hal.

Tiba-tiba saja pertanyaan ini terlontar dari pikiranku.

“Ibu rindu Ayah? Kenapa Ibu masih memilih sendiri?”

“Tentu Nak. Ibu sangat merindukan Ayah. Cinta itu juga seperti senja. Dia sementara, namun selalu dinanti. Tugas kita hanya mengerti bagaimana menghargai dan menikmati senja yang sementara tadi. Indahnya sungguh tidak terkira, bahkan kamu tidak ingin menggantikannya dengan bintang pada saat malam hari. Atau dengan embun pada pagi yang segar. Suatu hari nanti kamu akan tahu.”

Hening.

“Kini Ibu hanya memiliki satu senja di sebelah mata Ibu. Ibu akan selalu menjaga senja Ibu yang hanya satu ini. Senja di sebelah mata Ibu ini adalah kamu. Ayah adalah senja di sebelah mata Ibu yang telah hilang. Ayah telah menjadi bintang di langit malam Nak, walaupun tersembunyi pada langit yang kadang mendung, namun tetap ada. Begitupun ayah Nak, dia selalu dihati Ibu sampai kapan pun.”

Perlahan aku mengerti apa maksud tulus dan ikhlas yang selalu Ibu curahkan kepada keluarga. Kasih yang besar dan tak akan tergantikan oleh materil atau benda apa pun. Ketulusan tak pernah terlihat dengan kasat mata saja. Namun hanya dengan hati yang terdalam. Aku bangga memiliki Ibu yang sangat sempurna, memberi kasih dengan ikhlas. Selalu bersyukur dan tidak pernah mengeluh.

Ternyata aku lupa meletakkan kunci rumah di ventilasi pintu tadi pagi sebelum berangkat sekolah.

“Bukannya sudah Ibu bilang letakkan kunci rumah di ventilasi pintu saja? Supaya kamu tidak menunggu terlalu lama,” ucap Ibu sambil membuka pintu rumah.

Astaghfirullah … aku lupa bu ….”

“Dasar kamu pelupa,” Ibu gemas sambil mengelus-elus rambut pendekku yang tebal.

Ibu banyak mengajariku hal tentang cinta. Walaupun aku tidak pernah jatuh cinta. Namun aku tahu arti cinta dari raut mata Ibu. Tulus, memberi tanpa berharap lebih selain orang yang dicintainnya menyentuh titik bahagia. Cinta itu tulus seperti rangkulan-rangkulan doa yang selalu Ibu panjatkan kepada Tuhan dalam tiap-tiap sujud ibadahnya.

Ibu selalu bilang, cinta itu seperti lingkaran, tanpa titik awal pun tanpa titik akhir. Melingkar dan terus melingkar.

Yuk kita masuk,” ucap Ibu sambil merangkul bahuku lembut.

(Menjelang Senja, Kayutanam)

Tulisan dimuat dalam Antalogi Bersama Balai Bahasa 2015

 

 

0 Points


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *